Bismilahirrohmannirrohim
Semoga selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat
Jumat, 01 Juni 2012
Hormatilah dan Hargailah Orang Tuamu
Wahai Anakku
Salah satu cara menghormati orang tua adalah dengan memasang telinga baik-baik
Kamu sudah diberi telinga dua dan mulut satu
Itu artinya perlu lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara
Dengan mendengarkan kamu berarti mau belajar
Bila orang tua bicara, dan kamu mendengarkan berarti ada dua manfaat bagimu
Pertama kamu mendapatkan ilmu dari orang tuamu
kedua kamu mendapatkan berkah doa dan keselamatan karena penghargaan dan perhatianmu membuat orang tuamu semakin sayang padamu. Sehingga Tuhan pun akan memberikan hidayahNya kepadamu.
Bila engkau menganggap dirimu lebih benar dan lebih pintar dari orang tuamu, maka kamu kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu dan hidayah dari orang tuamu dan dari Tuhanmu.
Jumat, 18 Mei 2012
Pentingnya Pendidikan Karakter
Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar di Indonesia
oleh:
Taufik Hidayat
Di era sekarang, karakter merupakan sesuatu yang jarang ditemukan pada masyarakat Indonesia. Dilihat dari banyaknya ketidakadilan serta kebohongan-kebohongan yang dilakukan masyarakat kita.
Bahkan ditingkat yang lebih tinggi sendiri, yaitu pemerintah yang tak mengenal lagi sebuah karakter diri sebagai makhluk Tuhan dan sosial.
Menurut Prof. Suyanto Ph.D,karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
Potensi karakter yang baik telah dimiliki tiap manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini.
Karakter merupakan kualitas moral dan mental seseorang yang pembentukannya dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-natural) dan lingkungan (sosialisasi atau pendikan-natural).
Pendidikan merupakan salah satu wadah dalam menunjang pembentukan karakter tiap individu. Sekolah Dasar adalah merupakan pendidikan awal penanaman karakter anak dalam perkembangan dirinya. Tak bisa kita mungkiri bahwa banyaknya generasi di Indonesia, yang tidak mengenal dirinya sebagai bangsa Indonesia—yang memiliki berbagai macam suku, budaya, dan kultur sosial yang berbeda.
Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu:
pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
kedua, kemandirian dan tanggungjawab;
ketiga, kejujuran atau amanah, diplomatis;
keempat, hormat dan santun;
kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
keenam, percaya diri dan pekerja keras;
ketujuh, kepemimpinan dan keadilan;
kedelapan, baik dan rendah hati, dan;
kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Meskipun semua pihak bertanggungjawab atas pendidikan karakter calon generasi penerus bangsa (anak-anak), namun keluarga merupakan wahana pertama dan utama bagi pendidikan karakter anak.
Untuk membentuk karakter anak, keluarga harus memenuhi tiga syarat dasar bagi terbentuknya kepribadian yang baik. Yaitu,maternal bonding, rasa aman, stimulasi fisik dan mental. Selain itu, jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya juga menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak di rumah. Kesalahan dalam pengasuhan anak di keluarga akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru (didengar dan dicontoh), dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
Kegagalan guru dalam menumbuhkan karakter anak didiknya, disebabkan seorang guru yang tak mampu memperlihatkan dan menujukkan karakter sebagai seorang yang patut didengar dan diikuti. Sebagai seorang gurutidak hanya sekedar menyampaikan materi ajar kepada siswa. Namun, yang lebih mendasar dan mutlak adalah bagaimana seorang guru dapat menjadi inspirasi dan suri tauladan yang dapat merubah karakter anak didiknya—menjadi manusia yang mengenal potensi dan karakternya sebagai makhluk Tuhan dan sosial.
Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia.Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.
Jika karakter anak telah terbentuk sejak masa kecil mulai dari lingkungan sosial sampai Sekolah Dasar, maka generasi masyarakat Indonesia akan menjadi manusia-manusia yang berkarakter—yang dapat menjadi penerus bangsa demi terciptanya masyarakat yang adil, jujur, bertartanggung jawab—sehingga tercipta masyarakat yang aman dan tentram sebuah suatu negara.Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Memahami Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.
Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.
sumber : http://sahabatguru.wordpress.com/2011/05/23/pentingnya-pendidikan-karakter-di-sekolah-dasar-di-indonesia/
Minggu, 23 Oktober 2011
Instropeksi
Rabu,
07 Februari 2007 12:00 WIB
1696
Dibaca
Tools
Box
Salah
satu komentar yang saya baca di website ini sempat membuat saya
merenung. Komentar itu mengatakan saya kurang bisa berempati pada
nasib orang kecil karena saya tidak pernah merasakan bagaimana
menjadi orang susah.
Saya
tidak tahu dalam konteks apa saya "dituduh" seperti itu.
Kata orang, don’t judge a book by it’s cover. Jangan menilai
sebuah buku dari sampulnya. Saya dulu termasuk yang sering menilai
orang dari tampilan luarnya.
Saya
terkesan pada sebuah cerita Tiongkok kuno. Alkisah, seorang saudagar
kaya kehilangan sekeping uang logam. Dia curiga uang itu dicuri anak
tetangga yang menurut dia lagak dan lagunya mirip pencuri. Saat
sedang bercuriga seperti itu, sang anak lewat dan tersenyum padanya.
"Lihat, senyum itu khas senyum seorang pencuri. Lagak lagunya
juga," umpat si saudagar dalam hati. Muak betul dia melihat anak
tetangga tersebut. ,/p>
Namun
ketika sang saudagar berbalik, tiba-tiba dari sakunya jatuh sekeping
uang. "Ups, ternyata terselip di saku," ujarnya dalam hati.
Pada saat bersamaan, sang anak lewat lagi dan menunduk hormat pada
sang saudagar. "Ah, kalau dilihat dari senyumnya, tampaknya dia
anak yang baik dan hormat pada orangtua. Lagak lagunya juga santun,"
ujarnya dalam hati. Kita memang sering menilai orang menurut persepsi
kita. Bahkan kita sering memaksakan penilaian kita dengan mengabaikan
fakta.
Suatu
hari, saya menegur seorang reporter karena gagal mendapat berita yang
tidak terlampau sulit. Saya menantang dia dengan mengatakan saya bisa
mendapatkan berita tersebut. Apa jawabnya? "Mas Andy sih enak,
naik mobil dan disupiri. Jadi gak merasakan susahnya di lapangan."
Dia
tidak salah. Ketika kuliah dulu, saya juga pernah mengatakan kepada
GM "Om Pasikom" Sudarta bahwa saya ingin menjadi kartunis
seperti dia karena penghasilannya besar. Dia tertawa. "Jangan
lihat saya sekarang. Tapi lihat bagaimana proses saya untuk bisa
menjadi seperti sekarang."
Ayah
saya tukang servis mesin tik, ibu penjahit. Dengan pertimbangan
keuangan, saya dimasukkan sekolah teknik. Harapannya, jika tamat STM
nanti saya bisa langsung bekerja.
Belum
tamat STM, ayah meninggal. Saya terpaksa ikut kakak yang tinggal di
Jakarta. Kami tinggal di sebuah gang sempit. Setiap hari pekerjaan
rutin saya: pagi memandikan dua keponakan, menyiapkan sarapan mereka,
mengantar ke sekolah, cuci baju, cuci piring, mengepel, jemput
keponakan, mandi, makan siang, ke perpustakaan Soemantri Brojonegoro
Kuningan, catat bahan-bahan kuliah sampai tangan pegal (tidak punya
ongkos untuk fotokopi), lalu berangkat ke kampus.
Dalam
seminggu saya harus bisa bertahan dengan uang Rp 5.000 di kantong.
Caranya? Setiap hari saya pakai celana jins butut, sepatu butut, kaos
oblong, lalu muka dibuat cuek. Kalau kondektur bus minta ongkos,
pura-pura budek. Kalau kondektur naik pitam, turun di halte terdekat,
pindah bus di belakangnya. Pokoknya bagaimana agar sampai kampus
tanpa harus keluar ongkos. Ini namanya permainan adu nyali. Adu nyali
sama kondektur dari Sumatera Utara yang sangar-sangar itu.
Di
kampus, hindari teman-teman yang ngajak jajan. Kecuali kalau jelas
ada yang ulang tahun dan mau nraktir. Tuhan maha adil. Dengan
keterampilan membuat karikatur, setiap ada yang ulang tahun, atau
saat lebaran, natalan, dan tahun baru-an selalu saja ada yang pesan
kartu-kartu ucapan yang lucu-lucu. Hasilnya lumayan, terutama
lebaran.
Logistik
semakin kuat manakala cerpen-cerpen, kartun, dan artikel yang saya
kirim ke berbagai majalah ada yang dimuat. Dari situ saya bertahan
dan tidak menyusahkan kakak.
Semua
pengalaman hidup itu membuat saya marah jika kepada pedagang kecil
istri saya mencoba melakukan tawar-menawar hingga titik darah
penghabisan. Tadinya dia bangga sebagai istri berhasil menghemat
sejumlah uang belanja. Tapi, sekarang tawar menawar hanya untuk
kepuasan. Setelah "menang", uang kembalian diberikan kepada
si pedagang.
Saya
juga senang anak dan istri sekarang bisa memahami mengapa saya cepat
iba pada mereka yang susah. Sebab saya pernah berada di posisi itu.
Tapi, komentar bahwa saya kurang berempati kepada orang kecil karena
saya tidak pernah susah, tetap akan saya jadikan bahan introspeksi.
Mungkin itulah "sampul" yang dilihat oang tentang saya.
EMPATI
EMPATI
08
2008 16:24 WIB
2763
Dibaca
Tools
Box
Suatu
malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di
kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya
yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba
untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari
makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang
menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada
pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya
membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke
hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja,
jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini,
saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara
ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka
serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun
malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya
biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya
yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat
tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan,
saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja
bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah
bekas makanan.
Sungguh
pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat
sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor
oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja
tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan
sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa
sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh
seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
Sejak
malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini
saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru
menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok
kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di
banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan
membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena
tenaga kerja mahal.
Sebenarnya
tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal
meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa
menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya,
artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya
pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk
membuang sampah di situ.
Belakangan
seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu
dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada
slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya
memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya
juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang
dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang
mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada
orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi
meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu
orang yang tersenyum.
Terilhami
oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chiken Soup”, saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa
di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya
pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika
hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia
menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia
temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak
orang.
Bayangkan
jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap
hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda
puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada
orang-orang di sekitarnya.
Anak
saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
“terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
kembalian. Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic
words” yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata
“tolong” ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya
pembantu rumah tangga kita.
Dulu
saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari
istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para
supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran.
“Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?’’ Nasihat itu
diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya.
Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak
udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya
membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat
orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati
pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari
dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah
meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu
juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar,
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak
membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari
perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen
karet.
Kita
sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika
membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk
berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi
sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu
saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu
tersebut.
Jika
kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah
sekarang juga.
"Becik ketitik, ala ketoro"
"Becik
ketitik, ala ketoro"
Selasa,
27 Februari 2007 12:00 WIB
1753
Dibaca
Tools
Box
Ada
satu kejadian yang sampai saat ini tidak pernah saya lupakan. Saat
itu usia saya 13 tahun. Suatu hari kakek saya, yang bekerja di
pertambangan di Kalimantan, berkunjung ke rumah. Dia membawa buah
tangan banyak sekali. Di antaranya sekaleng besar permen warna-warni.
Saya belum pernah melihat permen seindah dan sebanyak itu.
Dengan
perasaan bangga yang luar biasa, saya membagi-bagikan permen itu
kepada sahabat dan teman dekat saya. Bahkan anak-anak lain yang tidak
saya kenal ikut kebagian. Kemudian datang seorang anak. Saya tidak
mengenalnya. Sudah beberapa kali dia bolak balik untuk minta permen
dan bolak balik saya beri.
Jadi,
ketika dia minta lagi, saya julurkan tangan untuk memberi. Tapi apa
yang terjadi? Tiba-tiba salah satu jari saya berdarah. Anak tersebut
lari sembari tertawa gembira. Rupanya dia sudah menyiapkan benda
tajam untuk melukai tangan saya. Mengapa peristiwa itu masih lekat
dalam ingatan saya? Karena sampai sekarang saya tidak juga mengerti:
mengapa dia ingin melukai tangan saya? Bukankah tangan itu yang
memberinya permen?
Pada
peristiwa Tsunami, Media Grup memprakarsai pengumpulan dana dan
barang dari masyarakat untuk membantu saudara-saudara kita di Aceh
dan Nias. Saat itu hampir semua karyawan Media Grup dikerahkan guna
mengurus sumbangan dari masyarakat untuk didistribusikan ke Aceh dan
Nias. Pekerjaan yang luar biasa besar dan berat.
Karyawan
dibagi dalam jadwal. Siang dan malam. Arahan yang kami pegang ketat:
satu rupiah uang bantuan yang masuk, tidak boleh berkurang satu sen
pun ketika tiba di tempat tujuan. Setiap kilo gram susu yang
diterima, tidak boleh kurang barang satu ons pun ketika tiba di Aceh
atau Nias. Untuk itu Media Grup sendiri harus mengeluarkan dana
selain tenaga.
Tapi,
toh tetap muncul suara sumbang. Kebanyakan datang dari individu atau
lembaga yang setahu saya justru tidak berbuat apa-apa. Padahal semua
yang dilakukan Media Grup waktu itu diaudit oleh Erns & Young,
lembaga audit yang kredibel. Juga semua dana yangmasuk dan disalurkan
diumumkan di Media Indonesia maupun Metro TV. Semua jelas dan
transparan. Bahkan dokumen laporan pertanggungjawaban yang dibuat
Media Grup mendapat pujian dari Komisi IX dan Komisi XI DPR-RI saat
acara dengar pendapat.
Kesimpulannya,
Perbuatan baik tidak selalu dipandang baik. Apalagi ketika pikiran
kita setiap hari dijejali berita-berita negatif. Virus curiga,
cemburu, iri, dan dengki semakin kuat menyebar. Mata hati pun tak
kuasa melihat dengan jernih.
Maka
saya harus bisa menerima dengan lapang dada manakala ada komentar
yang menuduh undian buku di website ini hanya akal-akalan alias
bohong belaka. Walau saya melihat sendiri bagaimana tim Kick Andy
begitu repot menyiapkan buku undian tersebut. Mulai dari menentukan
judul buku, menghubungi penerbit, membeli, mengambil di gudang,
mengundi pemenang, membungkus dengan rapih sampai mengirimnya ke
alamat pemenang.
Suatu
rangkaian pekerjaan yang tidak mudah. Menyita waktu dan juga uang.
Namun diujung kerja keras itu: sejumlah komentar menuduh semua ini
bohong belaka.
Saya
bisa memahami tuduhan itu tentu lahir dari hati yang kecewa. Jumlah
buku memang terbatas. Karena itu harus diundi. Terbatas karena baru
segitulah kemampuan Kick Andy yang baru saja genap satu tahun. Buku
yang harus kami siapkan setiap episode rata-rata 200 buku. Sejumlah
40 buku kami siapkan untuk undian. Buku akan kami kirim kemana pun
alamat pemenangnya. Termasuk ke Papua dan Aceh.
Pernah
terpikirkan untuk menghentikan undian buku gratis ini. Selain
menyedot terlalu banyak tenaga, biaya yang disiapkan juga tidak
sedikit. Tetapi tim Kick Andy akhirnya bertekad untuk melanjutkan
pemberian buku gratis. Sebab kami tidak boleh takluk oleh kecurigaan.
Kami tidak boleh surut oleh tuduhan. Pepatah Jawa bilang, becik
ketitik, ala ketoro. Perbuatan yang baik atau buruk, akhirnya pasti
terlihat juga.
Sabtu, 15 Oktober 2011
Cara Install Game Point Blank (PB)
Mungkin diantara sahabat semua ada yang masih bingung cara install point blank (PB) game yang telah saya berikan link download gratis game point blank di tulisan sebelumnya. Kali ini saya coba akan menulis petunjuknya di sini. Tapi, sebelum melakukan proses instalasi, sebelumnya pastikan dulu jika komputer kamu spesifikasinya sesuai. Berikut adalah minimum spec komputer yang dibutuhkan agar bisa memainkan permainan point blank (PB) online :
1. CPU P4 2.4G / Athlon 2500+
2. Memory Ram 512 mb
3. VGA 128 mb
Setelah spec computer sesuai dan game point blank juga telah didownload beserta pacthnya, maka selanjutnya lakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Install DirectX9.0c atau versi yang lebih tinggi dan juga update driver video card (VGA) yang versi terbaru.
2. Install client gamenya, ikuti saja prosesnya sampai selesai. Pertama click pada installation, lalu proses loading akan berjalan.
3. Setelah itu akan mucul window baru, biasanya ada tulisan “selamat datang di di point blank online setup wizard”, klik lanjut
4. Selanjutnya akan muncul EULA (end user licence agreement), klik saya setuju
5. Pilih komponen yang akan diinstall, dan klik lanjut.
6. Setelah itu, terakhir memilih lokasi install. Secara default sih seperti saat install program lain biasanya game point blank akan diinstall di c:Program FilesGemscoolPoint Blank. Tapi kalau mau diinstall di drive D juga bisa, terserah.
7. Setelah itu tunggu hingga setup instalasi selesai. Setelah itu klik tutup. Selesai deh proses instalasi point blank dan secara otomatis akan ada tombol pintas (shortcut) PB di desktop computer kamu. Oh, iya setelah proses instalasi client game selesai, jangan lupa untuk menginstal full patchnya juga biar lebih cepat, karena kalau secara online biasanya lama. Selanjutnya kamu bisa mulai main setelah register untuk mendapatkan id point blank.
Untuk cara memainkan point blank, silahkan klik di sini cara main point blank.
Pada beberapa kasus juga sering ada user yang menemui pesan eror seperti Unknown Error has occurred [0x82000023] saat mau memainkan game point blank online ini, solusinya jalankan gamenya pada login administrator. Jadi, tidak langsung di double click, tapi klik kanan pada shortcut yang ada di desktop, lalu Run as administrator. Ada juga yang muncul seperti Grafic Device Does Not Support pixelshade: NVIDIA GeForce4 MX4000 , ini berarti game point blank tidak support VGA tipe tersebut, solusinya ganti VGA dengan tipe yang sesuai. Itu saja yang dapat saya tulis mengenai info game seputar cara instal point blank online, semoga mudah dipahami dan dapat bermanfaat ! Jika masih ada kesulitan mengenai game point blank ini silakan mampir ke forum gemscool, kalian akan menemukan banyak sekali informasi seputar point blank dan juga game gemscool yang lain. Serta bisa bertanya kepada para member lain yang sudah mahir.
sumber :
http://www.idafazz.com/cara-install-game-point-blank-pb.php
Kamis, 15 September 2011
Berhenti Makan Sebelum Kenyang
Berhenti
Makan Sebelum Kenyang
Senin,
02 April 2007 12:00 WIB
1821
Dibaca
Tools
Box
Saya
paling mudah mabuk laut. Karena itu saya selalu berkelit kalau diajak
Surya Paloh, pemilik Metro TV, memancing. Membayangkan
diombang-ambing ombak saja sudah membuat pening dan mual. Karena itu
saya selalu mencari alasan kalau diajak memancing. Sampai suatu saat
saya tidak bisa berkelit. Maka bersama sejumlah teman, kami memancing
di laut lepas dekat Pulau Kaliage.
Setelah
sekian jam berpindah-pindah lokasi tanpa hasil, saya mulai mabuk.
Saya berdoa semoga Surya Paloh bosan dan mengajak kembali ke darat.
Mungkin karena jarang berdoa, Tuhan juga cuek. Tidak ada tanda-tanda
penderitaan bakal berakhir. Tiba-tiba terdengar teriakan. Umpan yang
dilempar ke laut dimakan ikan. Begitu pancing ditarik, sejumlah kakap
merah menyembul. Bukan Cuma satu, tapi empat atau lima sekaligus.
Dalam satu tali pancing memang dipasang empat sampai lima mata kail.
Seumur hidup saya belum pernah menyaksikan betapa mudahnya mendapat
ikan.
Setiap
kail ditarik, empat sampai lima ekor kakap merah tersangkut. Begitu
seterusnya tanpa henti. Seakan di bawah sana sedang ada pesta. Semua
ikan kumpul jadi satu. Dalam waktu singkat kapal sarat dengan ikan.
Semua seperti kesetanan. Saya jadi ikut kesetanan. Mabuk pun hilang.
”Stop! Stop! Cukup!,” terdengar suara Surya Paloh. Sebagian
berhenti, sebagian tetap kesetanan. ”Cukup, cukup,” Surya Paloh
mencoba mengingatkan. ”Biarkan ikan yang lain tinggal dan
berkembang biak lagi. Masih ada hari lain. Jangan serakah.”
Baru-baru ini, istri saya mempersoalkan susu anak yang menghilang
dari pasar. Dengan enteng saya bilang ganti dengan merek lain.
Tapi,
sekian tahun terbiasa dengan satu produk, tidak mudah bagi anak saya
pindah ke lain hati. Maka, terpaksalah mereka berdua berburu susu
dari satu supermarket ke hypermarket. Termasuk toko-toko kecil
diubek-ubek. Akhirnya mereka menemukan susu brengsek itu di sebuah
toko grosir di Bintaro. Produk yang ada sisa 16 kaleng. Anak saya
memaksa agar istri saya memborong susu langka itu semuanya. Tapi
istri saya menjelaskan bahwa pasti ada ibu-ibu lain yang juga
membutuhkan. Maka dia hanya membeli separuhnya. Namun ketika
persediaan hampir habis, lagi-lagi sulit mendapatkan susu tersebut.
Si kecil mulai mempersoalkan keputusan ibunya dulu yang hanya membeli
separuh. Maka perburuan dimulai lagi.
Sampai
suatu pagi, dengan wajah berseri, istri saya mengatakan problem sudah
terpecahkan. Seorang distributor akan membantu. Ceritanya, dalam
perburuan itu istri saya akhirnya menelepon ke produsen susu
tersebut. Menurut produsen, merek tersebut memang tidak diproduksi
lagi karena akan diganti dengan yang baru. Mereka meminta istri saya
menghubungi distributor besar mereka. Tapi ternyata distributor itu
sudah tidak punya stok. Mereka menganjurkan agar istri saya
menghubungi distributor kecil. Istri saya mengejar terus.
Ketika
menelepon distributor yang dimaksud, seorang pria di ujung telepon
meminta maaf karena stok mereka juga sudah habis. Namun sebelum
telepon ditutup, dia bertanya mengapa istri saya begitu gigih
mengejar susu tersebut. Bukankah bisa cari susu lain? Istri saya lalu
bercerita tentang perburuan susu itu, termasuk keputusannya untuk
tidak memborong habis persediaan susu waktu itu dengan pertimbangan
ada ibu-ibu lain yang pasti juga membutuhkan susu itu.
Di
luar dugaan, pria itu -- yang belakangan diketahui adalah pimpinan
perusahaan distribusi tersebut -- mengaku tersentuh oleh cerita istri
saya. ”Jaman sekarang jarang ada orang yang masih mau
mempertimbangkan kepentingan orang lain,” ujarnya. Dia lalu
berjanji membantu mencarikan susu tersebut. Tak sampai satu jam,
telepon istri saya berdering. ”Bu, saya sudah dapat. Mau berapa
banyak juga bisa,” ujarnya gembira. Ternyata susu itu dia temukan
di Lampung! ”Dalam dua hari susu sudah sampai di Jakarta. Biaya
pengiriman jangan dipikirkan. Saya yang tanggung,” ujarnya.
Mendengar cerita itu saya justru berbalik tidak percaya.
Di
jaman seperti ini kok masih ada orang yang mau bersusah payah ikut
mencari susu apalagi sampai ke Lampung. Kalau waktu itu dia bilang
stok habis, urusan selesai. Kenapa harus repot? Ketika Surya Paloh
meminta kami untuk berhenti memancing, sebagian besar merasa kecewa.
Bayangkan, ketika ikan begitu mudah dipancing, kami disuruh berhenti.
Begitu juga ketika susu sulit didapat, sementara di rak ada 16
kaleng, istri saya hanya membeli separuhnya. Pada waktu itu saya juga
kecewa pada keputusan istri. Dari dua kisah di atas, saya kembali
diingatkan untuk belajar. Belajar mengendalikan hawa nafsu.
Berhentilah makan sebelum kenyang. Makan secukupnya. Jangan serakah.
Pesan moral dari kitab suci itu tampaknya mudah diucapkan, tapi susah
diterapkan. Karena itu, kita perlu saling mengingatkan. Check
MailCompose Search Mail: Search MailSearch the Web
Langganan:
Postingan (Atom)