Bismilahirrohmannirrohim

Semoga selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat

Kamis, 15 September 2011

Prinsip


Prinsip
Minggu, 02 September 2007 12:00 WIB
2364 Dibaca
Tools Box
Sepanjang hidup saya, dua kali saya memukul perempuan. Pertama, ketika saya berada dalam masa-masa pembangkangan terhadap orangtua, saat saya berusia 13 tahun. Kedua, ketika mobil saya diserempet mobil yang dikemudikan seorang remaja perempuan.
Peristiwa pertama terjadi ketika saya -- yang sedang emosi -- memukul dengan keras dada kakak perempuan saya. Dia langsung terduduk dan nyaris tidak bisa bernafas. Saya pucat. Kaki saya gemetar. Sungguh saya tak menduga pukulan seorang bocah bisa berakibat seperti itu.
Peristiwa yang berlangsung sekejap itu ternyata punya dampak luar biasa. Sepanjang hidup saya bayang-bayang kejadian itu tidak bisa hilang dari ingatan saya. Sulit rasanya memaafkan diri sendiri. Setelah peristiwa tersebut saya berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah memukul wanita dalam hidup saya. Siapa pun dia. Janji yang saya pegang teguh bertahun-tahun. Bahkan hingga saya menikah. Dalam perkawinan saya yang menginjak 22 tahun, tak sekalipun saya bersikap kasar pada istri. Apalagi melakukan kekerasan fisik. Pantang bagi saya mengulang kesalahan masa lalu.
Tapi, suatu hari, tujuh tahun lalu, saya gagal memegang janji itu. Saat sedang mengemudi mobil, sepulang kerja, tiba-tiba sebuah mobil memaksa menyalip dan menyerempet mobil saya. Cukup keras untuk sebuah serempetan. Tapi, seakan tidak bersalah, mobil tersebut tetap saja meluncur. Saya mencoba memberi isyarat dengan klakson, mobil tersebut tak perduli. Emosi saya mulai terbakar.
Padahal selama ini ada satu prinsip dalam hidup saya dalam berkendaraan. Jika mobil saya diserempet, saya akan memaafkan sang penyerempet. Sebab saya yakin tidak seorang pun pengemudi normal yang ingin menyerempetkan mobilnya ke mobil orang lain. Jika itu terjadi, maka pastilah karena ketidaksengajaan. Lalu mengapa harus buang-buang energi untuk bersitegang? Mobil toh bisa dibawa ke bengkel, diperbaiki, dan semua akan normal kembali. Toh saya sudah bayar asuransi untuk ongkos perbaikan. Anda boleh setuju, boleh tidak.
Satu hal lagi, saya percaya karma. Beberapa kali saya juga lalai dan menyerempet mobil lain, boleh percaya boleh tidak, semuanya berakhir damai. Nyaris tidak perlu tarik urat leher. Mereka memaafkan saya. Hidup rasanya menyenangkan.,/p>
Lebih ekstrim lagi, suatu hari, mobil saya ditabrak hingga lampunya pecah. Begitu melihat pengemudinya perempuan yang tampak ketakutan, saya segera berlalu tanpa merasa perlu mempersoalkannya. Apa yang terjadi? Hari itu istri saya menabrak mobil orang hingga lampunya pecah dan orang tersebut memaafkan istri saya tanpa minta ganti rugi sepeser pun. Sekali lagi, boleh percaya, boleh tidak.
Tapi, entah karena sedang dalam kondisi lelah atau juga karena mobil yang menyerempet saya tidak berhenti untuk meminta maaf, saya emosi. Pada saat terjebak lampu merah, saya turun dan menghampiri mobil tersebut. Ternyata pengemudinya seorang remaja putri. Ketika saya jelaskan bahwa dia baru saja menyerempet mobil saya, dengan cueknya dia bilang tidak merasa. Entah setan apa yang merasuki pikiran saya, atau mungkin jengkel melihat gayanya yang menyebalkan, pipinya saya tempeleng. Tidak keras memang, tapi tetap saja hari itu saya melanggar sumpah yang selama ini saya pegang teguh. Sesal kemudian tidak berguna.,/p.
Maka, saya termasuk yang paling bersemangat mengangkat tema kekerasan dalam rumahtangga di Kick Andy. Sulit bagi saya memahami bagaimana seorang suami mampu melakukan kekerasan terhadap istri atau anak-anak mereka, yang secara fisik umumnya lebih lemah. Saya menyadari banyak laki-laki yang menggunakan kekuatan fisik ketika merasa kalah dalam adu argumentasi dengan sang istri. Menggunakan kekuatan fisik adalah jalan pintas bagi kebanyakan pria untuk menutupi kelemahannya.
Karena itu, ketika saya diminta menjadi hakim bagi pertengkaran rumahtangga kakak laki-laki saya, saya terpaksa menganjurkan jalan perceraian. Sulit bagi saya untuk membela kakak yang sering ringan tangan. Keputusan yang berat, tentu, karena menyangkut anak-anak mereka sebagai korban. Kakak saya juga sulit memahami jalan pikiran saya. Tapi, untuk hal yang satu ini, ternyata saya lebih setia pada prinsip.
Prinsip yang saya perjuangkan sejak usia 13 tahun (walau pernah sekali gagal mempertahankannya).

Mayor Alfredo


Mayor Alfredo
Senin, 17 September 2007 12:00 WIB
2440 Dibaca
Tools Box
Empat hari setelah Mayor Alfredo tampil di Kick Andy, saya menerima telepon dari pimpinan tertinggi sebuah lembaga pemerintah. Dia bertanya di mana lokasi wawancara dengan tokoh pemberontak Timor Leste itu.
Informasi itu dia butuhkan untuk menjawab pertanyaan pemerintah Timor Leste yang merasa terganggu oleh wawancara tersebut. Jawaban itu menjadi penting karena berkaitan dengan rencana kunjungan Presiden Ramos Horta ke Jakarta.
Saya minta maaf tidak bisa mengungkapkan karena sebelum wawancara sudah ada perjanjian dengan Mayor Alfredo untuk tidak mengungkapkan lokasi wawancara kepada siapa pun. Ini prasyarat dari Alfredo. Maklum, nyawanya memang terancam. Pada saat itu -- dan sampai tulisan ini saya buat -- Alfredo sedang diburu. Presiden (waktu itu) Xanana Gusmao secara resmi memerintahkan penangkapan Alfredo, hidup atau mati. Pasukan milter Timor Leste dan pasukan Australia yang ada di sana lalu memburu mantan komandan polisi militer Timor Leste ini sampa ke hutan-hutan. Dalam beberapa kali penggerebekan, Alfredo berhasil lolos walau beberapa anak buahnya tewas.
Pemberontakan Mayor Alfredo menimbukan pro dan kontra di kalangan masyarakat Timor Leste. Bagi pendukungnya, Alfredo dianggap pahlawan yang memperjuangkan keadilan berkaitan dengan kemelut di tubuh militer. Sementara yang kontra -- kebanyakan para politisi -- menuding Alfredo hanyalah seorang petualang.
Dalam posisi sedang menjadi buronon itulah, pria yang mengingatkan kita pada tokoh pemberontak militer Filipina Gringo Honasan ini tiba-tiba muncul di Kick Andy. Maka tidak heran jika para petinggi di Timor Leste kebakaran jenggot. Apalagi dalam wawancara itu Alfredo menuding para pemimpin Timor Leste hendak membawa negeri itu menjadi komunis.
Sehari setelah penayangan wawancara itu, saya dan tim Kick Andy mendapat telepon dari berbagai pihak. Dari kedutaan Timor Leste di Jakarta, dari Deplu kita, dari mereka yang mengaku orangnya Xanana dan orangnya Ramos Horta, dari beberapa petinggi militer di Indonesia, termasuk dari Badan Intelijen Nasional. Pertanyaannya sama: di mana wawancara dilakukan, bagaimana prosesnya, dan apa tujuan wawancara itu?
Pimpinan dari lembaga pemerintah yang saya sebut di atas tadi bahkan memaksa saya untuk mengungkapkan di mana wawancara tersebut berlangsung. "Kalau itu di Timor Leste, berarti Anda sudah melawan hukum karena masuk negara orang tanpa dokumen resmi. Nama Anda tidak pernah tercantum sebagai pemohon visa," ujar sang pemimpin. "Kalau wawancara itu di Indonesia, berarti Anda menyelundupkan orang asing ke Indonesia secara ilegal," dia menegaskan. "Apa tujuan wawancara itu?"
Singkatnya, terjadi dialog (atau tepatnya adu argumentasi) antara saya dan dia. Saya tetap bersikukuh tidak akan memberi tahu lokasi wawancara. Untuk itu saya katakan sebaiknya kepada orang-orang di Timor Leste dijelaskan kondisi di Indonesia sudah berubah. Pemerintah tidak lagi bisa menekan pers dengan kekuasaan. Apalagi jika tidak menyangkut kegiatan subversi.
Di ujung pembicaraan, sang pemimpin meminta saya untuk menyetop tayangan ulang Alfredo pada hari Minggu. Permintaan yang saya katakan sulit dipenuhi. Pasalnya, promo wawancara itu sudah bergulir. Masyarakat sudah tahu. Jika dihentkan tiba-tiba, maka saya harus mampu menjelaskan mengapa tayangan itu dihentikan. 'Saya akan jujur mengatakan karena lembaga Anda yang meminta,' ujar saya. Namun saya ingatkan tindakan itu akan merusak citra kedua belah pihak. Masyarakat akan marah jika mengetahui di era reformasi sekarang ini masih ada lembaga yang menekan pers. Sementara kredibiltas Metro TV sendiri akan rusak karena dinilai tidak lagi independen. Karena itu saya memilih tetap menayangkan ulangan wawancara dengan Alfredo tersebut.
Dari Timor Leste, muncul dua reaksi. Mendukung dan mencela. Mereka yang mencela bahkan menuduh Kick Andy dibayar mahal oleh Alfredo. Bahkan reporter Metro TV yang biasa meliput ke Timor Leste diancam tidak dijamin keselamatannya. Bagi yang mendukung, memuji keberanian Kick Andy menayangkan suara hati sang pahlawan.
Semua reaksi itu harus dihargai. Masing-masing pihak memiliki perspektif, memiliki sudut pandang, dalam melihat persoalan ini. Pendukung Xanana sangat menyesalkan tampilnya Mayor Alfredo di Kick Andy. Selama ini mereka mengaku menyukai Kick Andy dan merasa Kick Andy adalah teman karena pernah menayangkan wawancara dengan Xanana. Mereka puas atas wawancara tersebut. Jadi sungguh sulit menerima ketika Kick Andy memberi panggung bagi seorang Alfredo untuk tampil.
Apa tujuan wawancara itu? Sekali lagi memang dibutuhkan pemahaman tentang tugas jurnalistik. Semua pers saat itu dan sampai sekarang) memburu Mayor Alfredo. Semua ingin mengungkapkan alasan Alfredo, perwira militer yang memimpin kesatuan elite itu, melakukan pembelotan. Masyarakat tentu ingin mengetahui duduk persoalannya, terutama langsung dari sang pelaku sendiri.
Maka ketika Mayor Afredo menghubungi saya untuk peluang wawancara, tentu saya sambut antusias dan tanpa pretensi. Tidak ada agenda macam-macam. Apalagi sampai ada tuduhan Kick Andy dibayar. Kalaupun saya menolak mengungkapkan tempat wawancara, semata-mata karena komitmen saya kepada Mayor Alfredo. Termasuk perjanjian untuk menayangkan wawancara tersebut setelah dia dalam posisi aman di tempat persembunyian.
Saya sudah terbiasa menerima pujian dan celaan dalam memandu program Kick Andy. Pro dan kontra saya terima sebagai dinamika. Orang-orang yang dulu memuji saat saya mewawancarai Xanana, sebagian kini mencela Kick Andy setelah Alfredo tampil. Padahal dulu saya harus menelan cercaan ketika menghadirkan Xanana. Sebagian masyarakat Indonesia -- terutama keluarga prajurit TNI yang tewas di Timor Timur waktu itu -- menganggap saya tidak sensitif pada perasaan keluarga pahlawan Seroja. Mereka kecewa karena saya menampilkan tokoh pemberontak Xanana yang menyebabkan banyak prajurit Indonesia kehilangan nyawa di Timor Timur.
Sekali lagi, semua itu saya terima dengan lapang dada. Tidak ada yang salah. Semua benar karena melihat dari sudut pandang masing-masing. Kick Andy hanya ingin menyajikan suatu peristiwa, suatu keadaan, dengan cara yang tidak biasa dan tanpa pretensi. Karena itu, Kick Andy lebih tepat ditonton dengan hati. Biarkan hati yang yang mencernanya. Sebab hati biasanya lebih jujur.

Laskar Pelangi


Laskar Pelangi
Rabu, 10 Oktober 2007 12:00 WIB
5386 Dibaca
Tools Box
Komentar dari penonton datang bak air bah. Ini salah satu episode Kick Andy yang mendapat respon paling banyak. Rata-rata mengatakan tayangan tersebut memberikan pencerahan bagi hati. Sebagian dari penonton -- bahkan yang belum membaca buku Laskar Pelangi -- mengaku pengalaman Andrea Hirata, sang penulis, sungguh memberi inspirasi bagi hidup mereka. Lebih dramatis lagi, banyak yang sejak menonton episode Laskar Pelangi berjanji untuk mengubah total pandangan hidup mereka. Dari putus asa menjadi penuh harapan. Dari negatif menjadi positif. Dari masa bodoh menjadi perduli pada sesama.
Hati saya melompat-lompat membaca satu demi satu komentar yang masuk. Dada rasanya sesak. Sebegitu hebatkah dampak yang dirasakan penonton?
Padahal Andrea sejak awal tidak meniatkan cerita masa kecilnya itu dibukukan. Anak kampung di sebuah Pulau bernama Belitong ini mulanya hanya ingin menuliskan kisah itu sebatas kenangan atas persahabatan yang tulus dari sepuluh murid SD di sebuah sekolah yang bangunannya nyaris roboh. Juga untuk penghormatannya pada seorang guru yang penuh pengabdian walau 15 tahun tidak digaji.
Cerita tentang sepuluh anak SD yang sekolahnya merangkap kandang ternak ini, dan nyaris ditutup karena jumlah muridnya tidak mencapai sepuluh, ternyata berdampak luar biasa bagi sebagian pembacanya.
Seorang ibu di Bandung mengirim surat agar kisah nyata itu diangkat di Kick Andy. Anak sang ibu, yang terjerat narkoba dan nyaris tidak bisa lolos dari perangkap barang jahanam itu, ternyata mampu bangkit melawan dan sembuh dari ketergantungan setelah membaca Laskar Pelangi.
Moral cerita yang ditangkap dari kisah Laskar Pelangi adalah kemauan keras dari sepuluh anak-anak itu, dan juga guru mereka, untuk tidak takluk oleh keadaan yang mereka hadapi. Dalam keterbatasan -- atap sekolah bocor jika hujan dan papan tulis bolong yang harus ditambal poster Rhoma Irama -- tidak mematahkan semangat belajar mereka.
Jika kemudian tokoh Lintang yang digambarkan cerdas luar biasa harus terhempas, itu lebih karena faktor di luar kemampuan Lintang untuk melawannya. Sepeninggal ayahnya, nelayan miskin yang harus menghidupi 14 anggota keluarga, Lintang terpaksa berhenti sekolah. Kandas di bangku SMP.
Nasib saya seperti Lintang, sekolah kandas di tengah jalan. Setelah kematian ayah, tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. Tak ada harta dan uang yang ditinggalkan seorang montir mesin tik. Kakak perempuan dengan keterbatasannya mencoba menampung dan membiayai, walau akhirnya menyerah juga. Saya kandas di tingkat tiga bangku kuliah. Drop out. Tapi masih lumayan dibandingkan nasib Lintang.
Saya mensyukuri hidup karena kini saya menekuni pekerjaan yang saya cintai. Perjalanan untuk menjadi wartawan memang berliku. Tapi ada dua orang yang paling berjasa dalam memberikan pedoman dalam hidup saya.
Pertama, Ibu Ana, guru saya di SD Sang Timur, Malang. Dialah yang membangun rasa percaya diri saya sebagai kanak-kanak yang tumbuh dalam keluarga broken home. Di bawah bimbingannya hampir setiap kwartal saya juara kelas. Dialah sosok yang mampu memahami dan meredam kenakalan saya.
Sampai suatu hari sifat pemberontak saya kambuh. Saya malas sekolah. Hampir setiap minggu bolos. Saya lebih suka main bola dengan anak-anak kampung di pinggir stadion ketimbang ke sekolah.
Suatu hari Ibu Ana ke rumah. Sudah dua hari saya tidak masuk sekolah. Dia mencarter becak untuk mencari alamat saya. Bu Ana meminta agar besok saya masuk. Ada lomba antar-bintang kelas. Dia meminta saya mewakili kelas kami. Saya tidak siap tapi Bu Ana terus mendorong.
Pada harinya saya kalah. Sering bolos membuat banyak pertanyaan tidak mampu saya jawab. Bu Ana tidak marah, juga tidak kecewa. Dia mengatakan tetap bangga pada saya. 'Ibu yakin kelak kamu akan berhasil. Setidaknya dengan bakatmu, kamu bisa jadi penulis,' ujarnya. Waktu itu saya tidak paham. Saya belum punya cita-cita. Tapi pernyataan Bu Ana itu, sekian tahun kemudian, menjadi penentu saat saya menetapkan pilihan karir sebagai wartawan.
Orang kedua yang berjasa 'menggiring' saya menjadi wartawan adalah Pak Bowo, guru bahasa Indonesia saya di STM Jayapura. Dia guru dadakan karena guru bahasa Indonesia mengundurkan diri. Suatu hari diadakan lomba mengarang tingkat SLTA/SMU se-Jayapura. Pada hari terakhir pendaftaran, karena tidak ada wakil STM yang ikut, Pak Bowo meminta saya mendaftar. Karangan harus masuk hari itu juga. Maka sepulang sekolah, dia menemani saya menyiapkan karangan. Bahkan mengurus makan siang saya. Padahal selama ini murid-murid STM mengenalnya sebagai guru yang galak dan "tidak punya hati".
Sore hari, menjelang batas akhir pengumpulan karangan, dengan vespa tua miliknya Pak Bowo mengantarkan sendiri karangan itu ke panitia. Dia sangat bersemangat. Sebelum kami berpisah, saya masih ingat ucapannya, 'Kamu punya bakat menulis. Mungkin kamu lebih cocok jadi wartawan.'
Sejak itu pikiran saya selalu terobsesi untuk menjadi wartawan. Lulus sebagai juara umum dengan nilai terbaik di STM 6 Jakarta, saya berhak atas beasiswa ke IKIP Padang. Tapi saya memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik. Hati saya sudah mantap. Saya ingin jadi wartawan.
Sekian tahun kemudian, beberapa kali saya mencoba mencari Bu Ana. Bahkan dengan bantuan teman di SD dulu. Tapi hasilnya nihil. Begitu juga Pak Bowo. Alamatnya tak terlacak. Saya ingin bertemu mereka. Saya ingin mengucapkan terima kasih. Mereka telah menunjukkan arah bagi karier dan kehidupan saya. Kehidupan yang membuat saya sekarang bahagia. Sangat bahagia.

Kangen Band


Kangen Band
Minggu, 04 2007 12:00 WIB
6130 Dibaca
Tools Box
Ketika Kick Andy hendak mengangkat topik Kangen Band, muncul reaksi dari beberapa teman. 'Apa hebatnya musik mereka sehingga ditampilkan di Kick Andy?' Rata-rata begitu komentar mereka.
Seorang teman wartawan yang biasa meliput musik, juga merasa terganggu saat saya utarakan Kick Andy akan mengangkat band asal Lampung ini. 'Kualitas musik mereka buruk,' ujarnya. 'Tampang mereka juga amit-amit,' teman lain menambahkan dengan nada melecehkan. 'Nama band mereka juga gak kelas,' yang lain makin memperparah posisi band tersebut.
Saya mendengar nama Kangen Band pertama kali ketika majalah Rollingstone mengadakan Private Party. Di situ vokalis Band Naif, David, secara terbuka mengecam Kangen Band. Termasuk label yang merilis album band tersebut dihujatnya.
Ketika hal tersebut saya tanyakan kepada teman-teman di Rollingstone, mereka mengaku Kangen Band memang dibenci oleh banyak pemusik. Kangen Band dituduh merusak kualitas musik Indonesia. Suatu hari saya membaca artikel tentang Kangen Band di Media Indonesia Minggu. Di situ diungkapkan asal usul band yang mengorbit lewat lagu mereka Aku, Kau, dan Dia itu.
Semua personelnya ternyata berasal dari keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Ada yang bapaknya penarik becak atau ibunya penjaja makanan keliling. Sementara mereka sendiri ada yang dulu jualan cendol, kenek angkot, dagang sandal di kaki lima, dan kuli bangunan.
Di balik cercaan bertubi-tubi yang mereka terima, album perdana mereka yang dirilis Warner Music Indonesia -- label dengan jaringan internasional -- mampu menembus angka penjualan yang spektakuler, menembus 300 ribu keping. 'Di tengah kondisi seperti sekarang dan pembajakan yang merajalela, angka itu luar biasa,' ujar Bens Leo, pengamat musik.
Hati saya tergerak untuk mengangkat Kangen Band di Kick Andy setelah membaca artikel di Media Indonesia Minggu tersebut. Sukses mereka kontroversial. Musik mereka dikecam tapi album perdana mereka sukses. Di tengah beredarnya musik rap yang liriknya kasar dan kotor -- yang juga berisi ancaman akan membunuh anggota Kangen Band ini -- Kangen Band ternyata menyabet penghargaan platinum.
Ketika akhirnya topik Kangen Band ini tampil di Kick Andy, reaksi yang muncul di rubrik komentar di website ini macam-macam. Ada yang mendukung tapi tidak kurang penonton yang marah-marah. Mereka yang marah mengatakan tetap sulit menerima sebuah grup musik yang tidak bermutu tampil di Kick Andy. 'Bukankah masih banyak band yang layak?' tulis salah satu pemberi komentar.
Saya sendiri nyaris memutuskan untuk membatalkan penayangan topik Kangen Band ini pada detik-detik terakhir. Bukan karena band ini tidak layak tampil, tapi lebih kepada aspek teknis yang tidak memenuhi standar on air.
Namun, apa yang terjadi? Setelah topik itu tayang, ratingnya luar biasa tinggi. Topik Kangen Band ini bahkan mengalahkan jumlah penonton Kick Andy ketika mengangkat wawancara khusus dengan Habibie, Wiranto, dan Prabowo Subianto. Termasuk mengalahkan rating beberapa topik favorit lainnya. Suka tidak suka itulah faktanya.
Menonton Kick Andy, memang harus dengan hati. Tanpa itu agaknya kita sulit menerima ketika yang diangkat adalah Kangen Band. Bagi yang menonton dengan akal semata, mereka akan kecewa. Sebab yang dipakai sebagai ukuran adalah kualitas musik dan wajah para personil Kangen Band yang dibilang kampungan itu.
Menonton episode Kangen Band dengan hati membuat kita menyadari betapa hidup itu penuh misteri. Hidup juga penuh perjuangan untuk mengapai posisi yang lebih baik. Episode itu juga membuka hati kita bahwa setiap orang punya hak dan kesempatan untuk sukses dalam kehidupan yang singkat ini. Tidak peduli dia anak tukang becak. Tidak peduli dia bekas tukang jual cendol, pedagang sandal atau kuli bangunan.
Karena itu, daripada kita marah, dengki, dan menyebarkan energi negatif, ada baiknya sukses orang kita sambut dengan suka cita. Keberhasilan orang lain kita jadikan pemicu semangat untuk juga bangkit dan mengejar cita-cita. Jika semua berpikir begitu, alangkah indahnya hidup ini.

Impian


Impian
Senin, 26 2007 12:00 WIB
4624 Dibaca
Tools Box
Suatu hari, ketika sedang terburu-buru, sepasang suami istri mencegat saya. Sang suami menggendong seorang bocah perempuan berusia sekitar empat tahun. Wajah sang suami tampak kusut. Istrinya, walau mencoba tenang, tidak mampu menyembunyikan kegalauan hatinya.
Sang suami menceritakan bahwa dia dan istrinya baru saja mendatangi kantor KONI di kawasan Senayan Jakarta. Kedatangannya untuk bertemu pengurus KONI karena dia membutuhkan bantuan. "Kakaknya sedang sakit dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit," ujar sang suami sembari menunjuk bocah di gendongannya. "Kami kebingungan bagaimana membayar rumah sakit nanti. Kami tadinya berharap bisa minta bantuan pengurus KONI."
Saya lupa namanya. Tapi sang suami mengaku dia atlet senam yang pernah mempersembahkan sejumlah medali bagi Indonesia. Sepintas saya melihat sang istri memegang beberap foto yg tampaknya foto sang suami ketika meraih medali. Entah pada kejuaraan apa.
Mereka mengaku juga sudah mendatangi Hotel Century di kawasan Senayan, yang menjadi pusat penampunganl atlet-atlet, tapi tidak ada satu pun teman atlet yang sanggup menolong. "Suami saya dulu jadi pahlawan bagi negara. Tapi kini hidup kami terlunta-lunta," sang istri bergumam lirih. "Kami sebenarnya malu, tapi bingung bagaimana membayar rumah sakit nanti," dia menambahkan.
Menghadapi situasi yang mendadak seperti itu, ketika saya sedang bergegas, maka yang pertama terpikir adalah ini modus penipuan baru. Kalau Anda tinggal di Jakarta, pikiran seperti ini sangat lumrah. Di Ibu Kota, segala jenis penipuan dengan modus yang beraneka sering terjadi.
Saya minta maaf karena harus segera berlalu dan meminta nomor telepon mereka yang bisa saya hubungi. Juga alamat lengkap. Dengan wajah kuyu mereka mengatakan tidak punya telepon. "Untuk makan saja susah," ujar sang suami. Sementara wajahnya tampak ragu-ragu ketika mencatat alamat rumahnya. Dia seakan tidak yakin saya dapat menemukan alamat mereka. Alamat yang memang sulit dilacak.
Karena harus bergegas saya terpaksa meninggalkan mereka. Tetapi pertemuan tadi tetap mengganggu ketenangan hati saya. Kalau ternyata suami istri itu memang membutuhkan uang, dan anak mereka saat itu betul-betul membutuhkan perawatan, alangkah teganya saya? Hati saya terus gelisah.
Di tempat pertemuan, saya tidak bisa tenang. Dorongan kuat membuat saya akhirnya memutuskan kembali ke lokasi tadi untuk mencari suami istri tersebut walau hanya dengan sejumlah uang yang ada di dompet.
Tapi apa mau dikata, sepasang suami itu sudah tidak terlihat lagi. Mereka sudah pergi. Dada saya terasa sesak. Saya menyesal tidak segera mengambil keputusan saat itu juga. Ego saya ternyata mengalahkan hati. Ego saya menahan hati saya untuk segera memberi bantuan. Ego saya tidak rela ditipu.
Setelah pergulatan bathin itu saya menyadari apalah artinya tertipu sejumlah uang ketimbang sampai sekarang hati tidak bisa tenang. Saya terus memikirkan betapa saat itu suami istri tersebut harus kebingungan dan sedih memikirkan nasib anak mereka yang sedang dirawat di rumah sakit.
Mungkin karena beberapa kali Kick Andy menampilkan tayangan berupa bantuan kepada sejumlah narasumber yang kami tampilkan, ada kesan saya memiliki dana untuk filantropi, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Jujur saja saya tidak punya. Selama ini saya hanya berusaha mencari donatur yang memiliki visi sama dengan topik-topik yang diangkat di Kick Andy.
Karena itu, saya bermimpi suatu hari kelak saya bisa mengumpulkan sejumlah dana dari para donatur, dimana dana tersebut dapat saya gunakan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Saya yakin di tengah kondisi masyarakat yang cenderung individual belakangan ini, masih banyak hati manusia yang mudah terketuk melihat penderitaan sesama. Masih banyak orang yang tergerak untuk rasa kemanusiaan.
Saya bermimpi suatu hari kelak Kick Andy dapat menjadi jembatan yang mempertemukan dua kepentingan. Kepentingan orang-orang yang ingin membantu -- tetapi kerap tidak tahu cara yang tepat -- dengan mereka yang membutuhkan. Semoga Tuhan mengabulkan mimpi saya.

Jembatan


Jembatan
Minggu, 16 Desember 2007 12:00 WIB
4323 Dibaca
Tools Box
Jembatan Saya baru pulang dari Rumah Sakit Siloam, Karawaci bukan karena sakit tapi menjemput Ibu Jumiati. Hari ini dia diijinkan pulang setelah sembilan hari dirawat secara intensif. Ada perasaan haru bercampur bahagia ketika melihat Ibu Jumiati tampak ceria. Begitu juga wajah cerah dan senyum di wajah Pak Mahmud, sang suami. Anda tentu masih ingat Pak Mahmud, kepala sekolah yang mencari tambahan nafkah dengan menjadi pemulung.
Kasus Pak Mahmud menjadi perhatian banyak orang ketika kisahnya diangkat dalam film dokumenter 'Kepala Sekolahku Pemulung'. Film ini menjadi film dokumenter terbaik sekaligus menyabet penghargaan film favorit dalam kompetisi film dokumenter Eagle Award yang diselenggarakan Metro TV. Penonton yang menyaksikan kisah Pak Mahmud terpana dan tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
Bagaimana mungkin seorang guru, yang merangkap kepala sekolah, mencari tambahan uang dengan mengais-ngais sampah? Kick Andy kemudian memutuskan untuk mengangkat kisah Pak Mahmud sebagai topik. Bersama seorang guru yang mengajar di pelosok dusun di Muara Enim, Pak Mahmud menceritakan perjalanan hidupnya. Termasuk suka duka menjadi guru yang pemulung.
Ketika tampil di film 'Kepala Sekolahku Pemulung', terungkap bahwa istri Pak Mahmud menderita tumor otak. Karena tidak sanggup membiayai operasi di rumah sakit, mereka memilih 'pengobatan alternatif' yang relatif murah. Waktu terus berjalan. Namun kondisi Ibu jumiati bukannya semakin baik, tumor di otaknya kian membesar dan mulai merusak saraf mata.
Ketika tampil di Kick Andy, Ibu Jumiati sudah dalam kondisi nyaris tidak bisa melihat. Selain nyeri di kepala yang semakin menjadi-jadi, Ibu Jumiati terancam buta total. Tuhan maha besar. Pada saat rekaman di studio, salah seorang pengurus Yayasan Otak Indonesia, juga hadir menonton.
Begitu melihat kondisi Ibu Jumiati, dia lalu mengirim sms. Isinya meminta agar Ibu Jumiati segera diperiksa di rumah sakit. Jika tumor di otak tersebut masih bisa dioperasi dan ada harapan sembuh, pihak yayasan siap membantu. Saya sungguh terharu.
Selama ini saya memang terlibat dalam aktivitas di Yayasan Otak Indonesia. Kami sudah sering membantu orang-orang tidak mampu, terutama anak-anak, yang mengalami masalah dengan otak. Saya tahu persis untuk operasi semacam itu membutuhkan biaya yang besar. Karena itu yayasan sangat selektif.
Pada saat episode Kick Andy tentang kepala sekolah pemulung ini ditayangkan di Metro TV, dr Eka, ahli bedah syaraf kenamaan, yang juga pendiri Yayasan Otak Indonesia, mengirim SMS ke saya. Dia meminta agar Ibu Jumiati bisa segera diperiksa. Dia juga menyatakan kesiapannya, bersama tim dokter, untuk melakukan operasi jika dibutuhkan.
Saya sangat bersemangat. Tim Kick Andy segera membawa Ibu Jumiati ke RS Siloam. Hasil pemeriksaan, tumor di otak Ibu Jumiati tidak ganas tapi jika dibiarkan akan mengancam penglihatan ibu dua anak ini.
Maka para dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi. Maka operasi pun dilaksanakan. Hampir 12 jam tim dokter yang dipimpin langsung oleh dokter Eka berusaha mengangkat tumor dari kepala Ibu Jumiati. Menurut dokter Eka, operasi tersebut merupakan salah satu yang paling sulit dan memakan waktu paling lama yang pernah dia tangani. Operasi akhirnya berjalan lancar. Sukses.
Setelah sembilan hari dirawat, Ibu Jumiati diperbolehkan pulang. Semua bahagia. ibu Jumiati bahagia. Pak Mahmud ceria. Para dokter juga sumringah. Saya terlebih lagi. Tidak pernah terbayang sebelumnya Kick Andy bisa berperan sebagai jembatan bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan. Sebuah jembatan yang mempertemukan orang-orang yang terketuk hatinya dan saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan.
Siapa bilang masyarakat kita sudah 'tidak punya hati'. Sudah apatis dan tidak perduli pada sesama? Pengalaman saya selama di Kick Andy membuktikan sebaliknya. Hampir dalam setiap topik yang menampilkan saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan, respon yang saya terima sungguh mengharukan.
Ketika kami membuka rekening untuk membantu para guru yang tampil di Kick Andy, termasuk kepala sekolah pemulung, respon yang masuk sungguh tak terduga. Bukan jumlah uang yang menjadi perhatian saya, tapi jumlah orang yang terketuk hatinya yang membuat saya terharu. Berapapun jumlah yang Anda berikan, kepedulian Anda memberikan harapan. Harapan bahwa masih banyak di antara kita yang masih punya hati.

Kanker


Kanker
Minggu, 13 Januari 2008 12:00 WIB
4827 Dibaca
Tools Box
Kanker Mata saya berkaca-kaca. Dada rasanya sesak. Pemandangan di hadapan saya tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Sejumlah anak, dengan masker di mulut, berjalan mendorong tiang beroda. Di atas tiang bergelantung tabung cairan infus. Dari ujung tabung melingkar seutas selang yang berujung di lengan atau kaki anak-anak itu. Melalui jarum infus, cairan di dalam tabung mengalir masuk ke tubuh mereka yang tampak lemas.
Sejak saat kami memilih mengangkat topik anak-anak penderita kanker di Kick Andy, saya mencoba mempersiapkan hati dan perasaan untuk menghadapi kondisi yang paling buruk. Tapi, ketika pada waktunya saya dihadapkan pada pemandangan di depan mata saya, toh hati ini terasa ditusuk-tusuk.
Pemandangan tersebut menggiring ingatan saya melayang kembali mengenang detik-detik sakratul maut menjemput nyawa kakak perempuan saya, ibu dari lima anak yang masih kecil-kecil. Ketika dokter memvonis kakak saya terkena kanker payudara stadium empat, saya melihat perempuan yang selalu ceria ini tiba-tiba luruh kehilangan daya. Tersungkur bagai benang basah. Dia menangis di bahu saya ketika kami berdua berada di ruang tunggu sebuah klinik.
Saya berusaha menguatkan hatinya. Kakak saya tidak siap menerima kenyataan ketika dokter ‘dengan wajah dan kata-kata yang dingin’ mengatakan kakak saya sebaiknya mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian karena tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan.
Sambil terus menangis kakak saya meminta saya berjanji untuk menjaga kelima anaknya. Dia ingin meyakinkan dirinya bahwa jika dia tiada kelak, kelima anaknya akan aman berada dalam asuhan saya, adik bungsunya. Setelah saya berjanji, hari-hari berikutnya saya melihat bagaimana kakak saya berlomba dengan waktu sebelum kematian menjemput.
Dia mempersiapkan kelima anak-anaknya yang masih kecil, dan tidak lagi memiliki ayah, untuk tabah dan menerima kenyataan mereka akan hidup tanpa ibu dan ayah. Hampir satu tahun menjelang ajalnya, saya melihat ketegaran yang luar biasa yang dipelrlihatkan kakak saya. Walau terbaring tanpa daya di rumah sakit, dengan dada yang hancur tak berbentuk, dia tetap berusaha ceria. Apalagi di hadapan anak-anaknya. Seusai terapi-kemo, proses yang membuatnya sangat menderita dan merontokkan seluruh rambutnya, kakak saya selalu berusaha bangkit dari tempat tidur dan mengunjungi pasien-pasien kanker lainnya.
Sejak kecil sifat yang sangat menonjol darinya adalah keingnan yang kuat untuk melayani dan membuat orang lain bahagia. Hal yang tetap dia lakukan walau dalam kondisi tubuh yang sangat lemah. Perempuan yang luar biasa tegar. Saya tidak pernah tahan melihat penderitaannya, terutama ketika perban di dadanya harus diganti.
Di tengah teriakan kesakitan yang tak terperi, kakak saya masih mencoba menghibur saya dengan lelucon-lelucon yang bagi saya terasa dipaksakan. Dia tidak ingin saya bersedih melihat penderitaannya. Setelah menderita hampir satu tahun lamanya, disaksikan kelima anaknya, akhirnya sang maut datang juga. Kalaupun ada yang membuat saya sedikit terhibur, itu karena permintaan terakhirnya terkabul.
Seminggu sebelum meninggal, kakak saya mengutarakan keinginanya bertemu Tessy Kabul Srimulat. Bagi saya, waktu itu, lebih mudah untuk menghadirkan menteri ketimbang Tessy. Saya banyak mengenal para menteri. Tapi Tessy? Jujur saja saya tidak pernah akrab dengan para seniman panggung dari kelompok Srimulat. Tapi, Tuhan menunjukkan kemahabesarannya. Melalui teman istri saya, cerita keinginan kakak saya ini sampai ke telinga Nico Siahaan. presenter yang baik hati ini lalu menyampaikan kepada Tessy bahwa ada seorang pasien kanker yang sedang menunggu ajal yang ingin bertemu dengannya, sebelum hembusan nafas terakhir.
Sekali lagi saya menyaksikan kuasa Tuhan yang luar biasa. Tessy, yang saat itu baru pulang dari sebuah show di Bogor, di tengah rasa lelah dan kantuk, malam itu menyempatkan diri datang ke RS Dharmais untuk menengok kakak saya. Pada momen itu saya tidak ada. Tapi sejumlah orang yang menjadi saksi mata menceritakan bagaimana bahagianya kakak saya saat bisa bertatap muka langsung dengan Tessy. Bahkan di tengah kondisinya yang sudah begitu parah, kakak saya masih bisa terbahak-bahak melihat tingkah laku Tessy yang sedang melucu.
Malam itu bangsal tempat kakak saya dirawat bahkan menjadi heboh dengan kedatangan Tessy sang pelawak. Esoknya, sisa-sisa keceriaan masih terlihat di wajah kakak saya. Bahkan dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya, kakak saya menceritakan pengalaman indahnya bertemu sang idola. Seminggu kemudian dia pergi untuk selama-lamanya. Kenangan tentang kakak saya begitu kuat ketika saya kembali menjejakkan kaki di RS Dharmais.
Kali ini saya berkunjung ke bangsal anak-anak penderita kanker yang sedang dirawat di situ. tampak wajah sejumlah kanak-kanak tidak berdosa yang menahan penderitaan akibat penyakit yang ganas itu. Kanker memang penyakit yang luar biasa lihainya. Dia baru menunjukkan tanda-tanda kasat mata ketika sudah merasa kuat dan menguasai fisik korbannya. Karena itu pertolongan sering menjadi terlambat.
Seorang ibu yang anaknya di rawat di RSCM mengaku kaget dan bahagia ketika tim kick Andy berkunjung ke sana. 'Kami sering merasa kesepian. Merasa sendirian dalam menanggung beban ini,' ujarnya. Saya bisa merasakan nestapa yang dirasakan ibu tersebut.
Dia mewakili perasaan hampir semua orangtua yang anaknya menderita kanker. perasaan yang sama saya rasakan ketika orang yang kita cintai sekarat di depan mata kita. Sementara kita tak punya daya untuk menolong. Para orangtua yang saya temui di RS Dharmais dan RSCM sebagian besar dari kalangan tidak mampu. Selain harus menanggung rasa pedih menyaksikan buah hati mereka terkapar tanpa daya, mereka juga harus menghadapi kenyataan memikirkan beban hidup yang terasa semakin menghimpit.
Kick Andy ingin memotret kehidupan anak-anak yang tidak berdosa, yang harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak sama dengan teman-temannya yang normal. Harapannya tentu agar mata kita menjadi terbuka, bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang hidupnya kurang beruntung dan membutuhkan kepedulian kita. Mereka ada di sudut-sudut kamar rumah sakit. Mereka nyata di hadapan kita. Mereka membutuhkan dukungan agar mereka bisa menghadapi hidup dengan lebih tegar. Kepedulian kita merupakan obat mujarab bagi anak-anak dan orangtua mereka. Agar mereka tidak merasa sendirian menanggung beban yang berat itu.