Bismilahirrohmannirrohim

Semoga selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat

Kamis, 15 September 2011

Impian


Impian
Senin, 26 2007 12:00 WIB
4624 Dibaca
Tools Box
Suatu hari, ketika sedang terburu-buru, sepasang suami istri mencegat saya. Sang suami menggendong seorang bocah perempuan berusia sekitar empat tahun. Wajah sang suami tampak kusut. Istrinya, walau mencoba tenang, tidak mampu menyembunyikan kegalauan hatinya.
Sang suami menceritakan bahwa dia dan istrinya baru saja mendatangi kantor KONI di kawasan Senayan Jakarta. Kedatangannya untuk bertemu pengurus KONI karena dia membutuhkan bantuan. "Kakaknya sedang sakit dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit," ujar sang suami sembari menunjuk bocah di gendongannya. "Kami kebingungan bagaimana membayar rumah sakit nanti. Kami tadinya berharap bisa minta bantuan pengurus KONI."
Saya lupa namanya. Tapi sang suami mengaku dia atlet senam yang pernah mempersembahkan sejumlah medali bagi Indonesia. Sepintas saya melihat sang istri memegang beberap foto yg tampaknya foto sang suami ketika meraih medali. Entah pada kejuaraan apa.
Mereka mengaku juga sudah mendatangi Hotel Century di kawasan Senayan, yang menjadi pusat penampunganl atlet-atlet, tapi tidak ada satu pun teman atlet yang sanggup menolong. "Suami saya dulu jadi pahlawan bagi negara. Tapi kini hidup kami terlunta-lunta," sang istri bergumam lirih. "Kami sebenarnya malu, tapi bingung bagaimana membayar rumah sakit nanti," dia menambahkan.
Menghadapi situasi yang mendadak seperti itu, ketika saya sedang bergegas, maka yang pertama terpikir adalah ini modus penipuan baru. Kalau Anda tinggal di Jakarta, pikiran seperti ini sangat lumrah. Di Ibu Kota, segala jenis penipuan dengan modus yang beraneka sering terjadi.
Saya minta maaf karena harus segera berlalu dan meminta nomor telepon mereka yang bisa saya hubungi. Juga alamat lengkap. Dengan wajah kuyu mereka mengatakan tidak punya telepon. "Untuk makan saja susah," ujar sang suami. Sementara wajahnya tampak ragu-ragu ketika mencatat alamat rumahnya. Dia seakan tidak yakin saya dapat menemukan alamat mereka. Alamat yang memang sulit dilacak.
Karena harus bergegas saya terpaksa meninggalkan mereka. Tetapi pertemuan tadi tetap mengganggu ketenangan hati saya. Kalau ternyata suami istri itu memang membutuhkan uang, dan anak mereka saat itu betul-betul membutuhkan perawatan, alangkah teganya saya? Hati saya terus gelisah.
Di tempat pertemuan, saya tidak bisa tenang. Dorongan kuat membuat saya akhirnya memutuskan kembali ke lokasi tadi untuk mencari suami istri tersebut walau hanya dengan sejumlah uang yang ada di dompet.
Tapi apa mau dikata, sepasang suami itu sudah tidak terlihat lagi. Mereka sudah pergi. Dada saya terasa sesak. Saya menyesal tidak segera mengambil keputusan saat itu juga. Ego saya ternyata mengalahkan hati. Ego saya menahan hati saya untuk segera memberi bantuan. Ego saya tidak rela ditipu.
Setelah pergulatan bathin itu saya menyadari apalah artinya tertipu sejumlah uang ketimbang sampai sekarang hati tidak bisa tenang. Saya terus memikirkan betapa saat itu suami istri tersebut harus kebingungan dan sedih memikirkan nasib anak mereka yang sedang dirawat di rumah sakit.
Mungkin karena beberapa kali Kick Andy menampilkan tayangan berupa bantuan kepada sejumlah narasumber yang kami tampilkan, ada kesan saya memiliki dana untuk filantropi, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Jujur saja saya tidak punya. Selama ini saya hanya berusaha mencari donatur yang memiliki visi sama dengan topik-topik yang diangkat di Kick Andy.
Karena itu, saya bermimpi suatu hari kelak saya bisa mengumpulkan sejumlah dana dari para donatur, dimana dana tersebut dapat saya gunakan untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Saya yakin di tengah kondisi masyarakat yang cenderung individual belakangan ini, masih banyak hati manusia yang mudah terketuk melihat penderitaan sesama. Masih banyak orang yang tergerak untuk rasa kemanusiaan.
Saya bermimpi suatu hari kelak Kick Andy dapat menjadi jembatan yang mempertemukan dua kepentingan. Kepentingan orang-orang yang ingin membantu -- tetapi kerap tidak tahu cara yang tepat -- dengan mereka yang membutuhkan. Semoga Tuhan mengabulkan mimpi saya.

Jembatan


Jembatan
Minggu, 16 Desember 2007 12:00 WIB
4323 Dibaca
Tools Box
Jembatan Saya baru pulang dari Rumah Sakit Siloam, Karawaci bukan karena sakit tapi menjemput Ibu Jumiati. Hari ini dia diijinkan pulang setelah sembilan hari dirawat secara intensif. Ada perasaan haru bercampur bahagia ketika melihat Ibu Jumiati tampak ceria. Begitu juga wajah cerah dan senyum di wajah Pak Mahmud, sang suami. Anda tentu masih ingat Pak Mahmud, kepala sekolah yang mencari tambahan nafkah dengan menjadi pemulung.
Kasus Pak Mahmud menjadi perhatian banyak orang ketika kisahnya diangkat dalam film dokumenter 'Kepala Sekolahku Pemulung'. Film ini menjadi film dokumenter terbaik sekaligus menyabet penghargaan film favorit dalam kompetisi film dokumenter Eagle Award yang diselenggarakan Metro TV. Penonton yang menyaksikan kisah Pak Mahmud terpana dan tidak percaya pada apa yang mereka lihat.
Bagaimana mungkin seorang guru, yang merangkap kepala sekolah, mencari tambahan uang dengan mengais-ngais sampah? Kick Andy kemudian memutuskan untuk mengangkat kisah Pak Mahmud sebagai topik. Bersama seorang guru yang mengajar di pelosok dusun di Muara Enim, Pak Mahmud menceritakan perjalanan hidupnya. Termasuk suka duka menjadi guru yang pemulung.
Ketika tampil di film 'Kepala Sekolahku Pemulung', terungkap bahwa istri Pak Mahmud menderita tumor otak. Karena tidak sanggup membiayai operasi di rumah sakit, mereka memilih 'pengobatan alternatif' yang relatif murah. Waktu terus berjalan. Namun kondisi Ibu jumiati bukannya semakin baik, tumor di otaknya kian membesar dan mulai merusak saraf mata.
Ketika tampil di Kick Andy, Ibu Jumiati sudah dalam kondisi nyaris tidak bisa melihat. Selain nyeri di kepala yang semakin menjadi-jadi, Ibu Jumiati terancam buta total. Tuhan maha besar. Pada saat rekaman di studio, salah seorang pengurus Yayasan Otak Indonesia, juga hadir menonton.
Begitu melihat kondisi Ibu Jumiati, dia lalu mengirim sms. Isinya meminta agar Ibu Jumiati segera diperiksa di rumah sakit. Jika tumor di otak tersebut masih bisa dioperasi dan ada harapan sembuh, pihak yayasan siap membantu. Saya sungguh terharu.
Selama ini saya memang terlibat dalam aktivitas di Yayasan Otak Indonesia. Kami sudah sering membantu orang-orang tidak mampu, terutama anak-anak, yang mengalami masalah dengan otak. Saya tahu persis untuk operasi semacam itu membutuhkan biaya yang besar. Karena itu yayasan sangat selektif.
Pada saat episode Kick Andy tentang kepala sekolah pemulung ini ditayangkan di Metro TV, dr Eka, ahli bedah syaraf kenamaan, yang juga pendiri Yayasan Otak Indonesia, mengirim SMS ke saya. Dia meminta agar Ibu Jumiati bisa segera diperiksa. Dia juga menyatakan kesiapannya, bersama tim dokter, untuk melakukan operasi jika dibutuhkan.
Saya sangat bersemangat. Tim Kick Andy segera membawa Ibu Jumiati ke RS Siloam. Hasil pemeriksaan, tumor di otak Ibu Jumiati tidak ganas tapi jika dibiarkan akan mengancam penglihatan ibu dua anak ini.
Maka para dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi. Maka operasi pun dilaksanakan. Hampir 12 jam tim dokter yang dipimpin langsung oleh dokter Eka berusaha mengangkat tumor dari kepala Ibu Jumiati. Menurut dokter Eka, operasi tersebut merupakan salah satu yang paling sulit dan memakan waktu paling lama yang pernah dia tangani. Operasi akhirnya berjalan lancar. Sukses.
Setelah sembilan hari dirawat, Ibu Jumiati diperbolehkan pulang. Semua bahagia. ibu Jumiati bahagia. Pak Mahmud ceria. Para dokter juga sumringah. Saya terlebih lagi. Tidak pernah terbayang sebelumnya Kick Andy bisa berperan sebagai jembatan bagi orang-orang yang membutuhkan bantuan. Sebuah jembatan yang mempertemukan orang-orang yang terketuk hatinya dan saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan.
Siapa bilang masyarakat kita sudah 'tidak punya hati'. Sudah apatis dan tidak perduli pada sesama? Pengalaman saya selama di Kick Andy membuktikan sebaliknya. Hampir dalam setiap topik yang menampilkan saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan, respon yang saya terima sungguh mengharukan.
Ketika kami membuka rekening untuk membantu para guru yang tampil di Kick Andy, termasuk kepala sekolah pemulung, respon yang masuk sungguh tak terduga. Bukan jumlah uang yang menjadi perhatian saya, tapi jumlah orang yang terketuk hatinya yang membuat saya terharu. Berapapun jumlah yang Anda berikan, kepedulian Anda memberikan harapan. Harapan bahwa masih banyak di antara kita yang masih punya hati.

Kanker


Kanker
Minggu, 13 Januari 2008 12:00 WIB
4827 Dibaca
Tools Box
Kanker Mata saya berkaca-kaca. Dada rasanya sesak. Pemandangan di hadapan saya tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Sejumlah anak, dengan masker di mulut, berjalan mendorong tiang beroda. Di atas tiang bergelantung tabung cairan infus. Dari ujung tabung melingkar seutas selang yang berujung di lengan atau kaki anak-anak itu. Melalui jarum infus, cairan di dalam tabung mengalir masuk ke tubuh mereka yang tampak lemas.
Sejak saat kami memilih mengangkat topik anak-anak penderita kanker di Kick Andy, saya mencoba mempersiapkan hati dan perasaan untuk menghadapi kondisi yang paling buruk. Tapi, ketika pada waktunya saya dihadapkan pada pemandangan di depan mata saya, toh hati ini terasa ditusuk-tusuk.
Pemandangan tersebut menggiring ingatan saya melayang kembali mengenang detik-detik sakratul maut menjemput nyawa kakak perempuan saya, ibu dari lima anak yang masih kecil-kecil. Ketika dokter memvonis kakak saya terkena kanker payudara stadium empat, saya melihat perempuan yang selalu ceria ini tiba-tiba luruh kehilangan daya. Tersungkur bagai benang basah. Dia menangis di bahu saya ketika kami berdua berada di ruang tunggu sebuah klinik.
Saya berusaha menguatkan hatinya. Kakak saya tidak siap menerima kenyataan ketika dokter ‘dengan wajah dan kata-kata yang dingin’ mengatakan kakak saya sebaiknya mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian karena tidak ada lagi upaya yang bisa dilakukan.
Sambil terus menangis kakak saya meminta saya berjanji untuk menjaga kelima anaknya. Dia ingin meyakinkan dirinya bahwa jika dia tiada kelak, kelima anaknya akan aman berada dalam asuhan saya, adik bungsunya. Setelah saya berjanji, hari-hari berikutnya saya melihat bagaimana kakak saya berlomba dengan waktu sebelum kematian menjemput.
Dia mempersiapkan kelima anak-anaknya yang masih kecil, dan tidak lagi memiliki ayah, untuk tabah dan menerima kenyataan mereka akan hidup tanpa ibu dan ayah. Hampir satu tahun menjelang ajalnya, saya melihat ketegaran yang luar biasa yang dipelrlihatkan kakak saya. Walau terbaring tanpa daya di rumah sakit, dengan dada yang hancur tak berbentuk, dia tetap berusaha ceria. Apalagi di hadapan anak-anaknya. Seusai terapi-kemo, proses yang membuatnya sangat menderita dan merontokkan seluruh rambutnya, kakak saya selalu berusaha bangkit dari tempat tidur dan mengunjungi pasien-pasien kanker lainnya.
Sejak kecil sifat yang sangat menonjol darinya adalah keingnan yang kuat untuk melayani dan membuat orang lain bahagia. Hal yang tetap dia lakukan walau dalam kondisi tubuh yang sangat lemah. Perempuan yang luar biasa tegar. Saya tidak pernah tahan melihat penderitaannya, terutama ketika perban di dadanya harus diganti.
Di tengah teriakan kesakitan yang tak terperi, kakak saya masih mencoba menghibur saya dengan lelucon-lelucon yang bagi saya terasa dipaksakan. Dia tidak ingin saya bersedih melihat penderitaannya. Setelah menderita hampir satu tahun lamanya, disaksikan kelima anaknya, akhirnya sang maut datang juga. Kalaupun ada yang membuat saya sedikit terhibur, itu karena permintaan terakhirnya terkabul.
Seminggu sebelum meninggal, kakak saya mengutarakan keinginanya bertemu Tessy Kabul Srimulat. Bagi saya, waktu itu, lebih mudah untuk menghadirkan menteri ketimbang Tessy. Saya banyak mengenal para menteri. Tapi Tessy? Jujur saja saya tidak pernah akrab dengan para seniman panggung dari kelompok Srimulat. Tapi, Tuhan menunjukkan kemahabesarannya. Melalui teman istri saya, cerita keinginan kakak saya ini sampai ke telinga Nico Siahaan. presenter yang baik hati ini lalu menyampaikan kepada Tessy bahwa ada seorang pasien kanker yang sedang menunggu ajal yang ingin bertemu dengannya, sebelum hembusan nafas terakhir.
Sekali lagi saya menyaksikan kuasa Tuhan yang luar biasa. Tessy, yang saat itu baru pulang dari sebuah show di Bogor, di tengah rasa lelah dan kantuk, malam itu menyempatkan diri datang ke RS Dharmais untuk menengok kakak saya. Pada momen itu saya tidak ada. Tapi sejumlah orang yang menjadi saksi mata menceritakan bagaimana bahagianya kakak saya saat bisa bertatap muka langsung dengan Tessy. Bahkan di tengah kondisinya yang sudah begitu parah, kakak saya masih bisa terbahak-bahak melihat tingkah laku Tessy yang sedang melucu.
Malam itu bangsal tempat kakak saya dirawat bahkan menjadi heboh dengan kedatangan Tessy sang pelawak. Esoknya, sisa-sisa keceriaan masih terlihat di wajah kakak saya. Bahkan dengan sisa-sisa tenaga yang masih dimilikinya, kakak saya menceritakan pengalaman indahnya bertemu sang idola. Seminggu kemudian dia pergi untuk selama-lamanya. Kenangan tentang kakak saya begitu kuat ketika saya kembali menjejakkan kaki di RS Dharmais.
Kali ini saya berkunjung ke bangsal anak-anak penderita kanker yang sedang dirawat di situ. tampak wajah sejumlah kanak-kanak tidak berdosa yang menahan penderitaan akibat penyakit yang ganas itu. Kanker memang penyakit yang luar biasa lihainya. Dia baru menunjukkan tanda-tanda kasat mata ketika sudah merasa kuat dan menguasai fisik korbannya. Karena itu pertolongan sering menjadi terlambat.
Seorang ibu yang anaknya di rawat di RSCM mengaku kaget dan bahagia ketika tim kick Andy berkunjung ke sana. 'Kami sering merasa kesepian. Merasa sendirian dalam menanggung beban ini,' ujarnya. Saya bisa merasakan nestapa yang dirasakan ibu tersebut.
Dia mewakili perasaan hampir semua orangtua yang anaknya menderita kanker. perasaan yang sama saya rasakan ketika orang yang kita cintai sekarat di depan mata kita. Sementara kita tak punya daya untuk menolong. Para orangtua yang saya temui di RS Dharmais dan RSCM sebagian besar dari kalangan tidak mampu. Selain harus menanggung rasa pedih menyaksikan buah hati mereka terkapar tanpa daya, mereka juga harus menghadapi kenyataan memikirkan beban hidup yang terasa semakin menghimpit.
Kick Andy ingin memotret kehidupan anak-anak yang tidak berdosa, yang harus menerima kenyataan bahwa mereka tidak sama dengan teman-temannya yang normal. Harapannya tentu agar mata kita menjadi terbuka, bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang hidupnya kurang beruntung dan membutuhkan kepedulian kita. Mereka ada di sudut-sudut kamar rumah sakit. Mereka nyata di hadapan kita. Mereka membutuhkan dukungan agar mereka bisa menghadapi hidup dengan lebih tegar. Kepedulian kita merupakan obat mujarab bagi anak-anak dan orangtua mereka. Agar mereka tidak merasa sendirian menanggung beban yang berat itu.

Buku


Buku
Kamis, 28 Februari 2008 12:00 WIB
7202 Dibaca
Tools Box
Buku Saat menulis Andy’s Corner ini, saya sedang berada di sebuah café di sudut toko buku Borders di Sydney, Australia. Suasana café yang tidak begitu luas terasa hangat dan menyenangkan. Pengunjung café ada yang sibuk ngobrol, tapi lebih banyak yang asyik membaca. Saya betul-betul menikmati “oase” sore itu, di tengah hiruk pikuk kota Sydney. Sambil menyeruput capucino, pikiran saya menerawang ke rekaman Kick Andy episode “Dengan Hati Melihat Dunia”.
Di episode tersebut, Kick Andy menampilkan sejumlah tunanetra yang luar biasa. Dalam keterbatasan fisik, mereka tetap menjalani hidup dengan optimistis. Bahkan boleh dikatakan prestasi mereka melebihi orang normal. Rama, misalnya, walau buta sejak balita, ternyata mampu mengembangkan keahliannya sebagai sound enginer yang handal. Bahkan dia mendapat kepercayaan dari perusahaan animasi kartun Marios Bros di Jepang untuk mengerjakan ilustrasi musik untuk permainan komputer yang dikeluarkan perusahaan tersebut.
Di episode itu juga tampil empat tunanetra yang membuat situs Kartunet.com (Karya Tuna netra. com) yang berisi karya-karya para tunanetra. Namun yang menggangu pikiran saya saat ini adalah pernyataan Irwan Dwi Kustanto, salah satu tunanetra yang tampil di episode itu. Pada saat itu, Irwan yang mengalami kebutaan sejak usia sembilan tahun mengungkapkan perasaannya. Seakan mewakili perasaan para tunanetra lainnya, Irwan mengatakan walaupun oksigen begitu banyak di sekitar mereka, yang bebas dihirup kapan saja, toh mereka merasa sesak.
Perumpamaan itu dia utarakan untuk menggambarkan apa yang dirasakan para tunanetra berkaitan dengan buku. “Buku begitu banyak di sekitar kami, tetapi kami tidak bisa membacanya,” ujar Irwan, yang mengaku waktu mahasiswa terpaksa meminta teman-teman kuliahnya yang normal untuk membacakan buku baginya. Walau tidak persis seperti Irwan, ketika mahasiswa saya juga mengalami perasan yang sama. Buku ada di sekeliling saya, tapi tidak semua bisa saya baca atau miliki. Buku menjadi barang mewah.
Saya harus menabung sampai tiga bulan untuk bisa membeli sebuah buku. Jangankan untuk buku biasa, untuk buku wajib yang dipersyaratkan dosen saja tidak terbeli. Kadang ada kawan yang berbaik hati menggandakan buku-buku tersebut untuk saya. Kalau tidak ada, maka saya terpaksa harus ke perpustakaan Soemantri Brojonegoro di Kawasan Kuningan, Jakarta.
Hampir setiap hari saya menyalin isi buku sampai tangan pegal. Kalau petugas perpustakaan menawarkan jasa fotokopi, saya selalu mengelak. Mana saya punya uang untuk fotokopi? Saya ingat betul buku paling mahal yang pernah saya miliki waktu itu ada dua. Pertama, “Kamus Umum Bahasa Indonesia” (KUBI). Buku kedua adalah “100 Tokoh yang paling Berpengaruh di Dunia”.
Begitu berharganya kedua buku itu sehingga saya menyampulinya dengan plastik dan menyimpannya baik-baik. Sampai saya berhenti kuliah, yang berhasil saya beli dan jadikan “koleksi” tidak lebih dari 20 buku. Sejak itu, di bawah alam sadar saya, ada “dendam” yang terus mengikuti langkah saya. Suatu ketika nanti, jika mampu, saya akan membeli buku sebanyak-banyaknya. Begitu suara hati saya.
Akibatnya baru terasa belakangan. Sekarang hampir setiap minggu istri saya “sport jantung” melihat belanjaan buku saya. “Apa kamu sanggup membaca buku sebanyak itu dalam seminggu?” Tanya istri saya. Setelah mendengar cerita masa lalu saya, sekarang istri sudah bisa memahami dan “menutup mata” terhadap kebiasaan saya membeli buku. Walau dia tahu buku-buku itu tak akan habis terbaca bahkan dalam sebulan.
Jika sekarang, melalui Kick Andy, saya bisa membagi-bagi buku, maka tak terkata kebahagiaan saya. Apalagi jika buku itu jatuh ke tangan mereka yang betul-betul membutuhkan. Mereka yang merasa sesak di tengah oksigen yang melimpah. Mereka yang melihat begitu banyak buku di sekitarnya tetapi tak sanggup memiliki.
Pada awalnya, banyak penonton yang meragukan program bagi-bagi buku ini. Bahkan mereka yang beberapa kali mencoba mengikuti undian buku di website ini tapi tidak juga beruntung, menuduh program bagi-bagi buku gratis ini hanya akal-akalan alias penipuan. Saya nyaris menghentikan program bagi-bagi buku ini.
Untung teman-teman tim kreatif Kick Andy meminta saya untuk tidak cepat patah semangat. Dari cuma 40 buku yang dibagi pada awalnya, kini sudah 100 buku yang bisa diakses melalui website pada setiap episode. Ini di luar 300-an buku yang dibagikan kepada penonton di studio. Belakangan semakin banyak respon positif yang kami terima. Termasuk dukungan dari para penerbit.
Dendam” yang saya pendam bertahun-tahun kini mendapatkan salurannya. Karena itu, ketika sedang duduk di café di sudut toko buku Borders di Sydney, gairah saya meledak-ledak. Melihat orang-orang yang sedang asyik membaca membuat semangat saya kembali menyala-nyala. Suatu hari nanti, saya bermimpi, di setiap sudut kota, di setiap desa, di setiap kampung di Indonesia, saya melihat orang-orang yang sedang asyik membaca. Tidak perduli tua atau muda. Tidak perduli kaya atau miskin. Mereka membaca.

Kick Andys Effect


Kick Andys Effect
Senin, 31 Maret 2008 12:00 WIB
6229 Dibaca
Tools Box
Kick Andys Effect Saya baru saja membaca berbagai komentar yang masuk ke website www.kickandy.com. Tak terasa mata saya berkaca-kaca. Apakah betul Kick Andy memberi pengaruh sebesar itu pada penonton? Kadang saya tidak habis percaya. Saya lalu teringat pada Herry Candi, salah seorang penonton Kick Andy di Makassar. Waktu membaca komentar Herry di website ini -- jujur saja -- saya nyaris tidak percaya.
Bagaimana mungkin ada orang yang begitu bersemangatnya sehingga rela menempuh jarak 40 kilometer dengan sepeda motor setiap Kamis malam hanya untuk menonton Kick Andy. Dalam komentarnya di website, Herry mengaku di tempat dia bekerja, di Kabupaten Barru, kotamadya Pare-Pare, Sulawesi Selatan, sinyal televisi tidak bisa ditangkap. Karena itu, untuk menonton Kick Andy di Metro TV, dia terpaksa harus ke kota terdekat yang jaraknya puluhan kilometer.
Di mana dia menonton? “Di warung-warung yang kebetulan punya televisi,” ujar Herry. Karena di wilayah Indonesia bagian tengah (WITA) Kick Andy dimulai jam 11 malam, maka Herry baru selesai menonton jam 12 tengah malam. Untuk langsung pulang, selain terlalu malam, tubuhnya juga sudah terlalu lelah. Maka Herry terpaksa menumpang tidur di pompa bensin di tepi jalan yang dilaluinya.
Kisah Herry terkesan berlebihan dan sulit dipercaya. Tetapi setelah tim Kick Andy berhasil menemuinya, saya baru bisa memahami mengapa Herry rela bersepeda motor puluhan kilometer dan tidur di pompa bensin di tengah dinginnya udara malam demi menonton Kick Andy. Herry mengaku sebelum menonton Kick Andy, dia merasa hidupnya tidak berguna. Baik untuk dirinya sendiri apalagi bagi orang lain.
Sampai suatu hari, tanpa di sengaja, dia menyaksikan Kick Andy di Metro TV. Waktu itu topiknya Suster Apung. Ini kisah tentang seorang perawat yang bekerja tanpa pamrih. Dengan keterbatasan pengetahuan dan peralatan, Suster Rabiah, sang perawat, berkeliling dari pulau ke pulau di kepulauan terpencil di Lautan Flores, Sulawesi Selatan. Jauh dari riuh rendah sorotan mata dan tepuk tangan, Suster Apung mendedikasikan 28 tahun hidupnya untuk membantu penduduk di kepulauan itu yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
Melihat kisah itu, Herry merasa terpukul. “Jika Suster Apung dengan segala keterbatasannya bisa memberikan arti bagi warga di kepulauan itu, mengapa saya tidak bisa melakukan hal yang sama?” Pikirnya. Herry merasa malu pada dirinya yang selama ini hanya mengeluh dan merasa tidak berguna.
Sejak itu dia lalu tergerak untuk membantu para petani tambak udang di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, yang selama ini bertambak dengan cara tradisional. Dengan menggunakan pengetahuan yang diperolehnya dari tempat kerjanya, sebuah perusahaan pembibitan udang, Herry lalu mengajari para petani tambak cara beternak udang yang lebih baik. Hasilnya? Jika dulu para petani tambak hanya bisa memperoleh Rp 300 ribu, berkat pengetahuan yang diajarkan Herry mereka kini bisa mendapatkan Rp 15 juta sekali panen. “Para petani sampai bingung mau diapakan uang sebanyak itu,” ujar Herry.
Kisah Herry di website menggerakan tim Kick Andy untuk mencari Herry dan mengundangnya ke Jakarta sebagai tamu kehormatan di HUT Kick Andy yang ke-2. Pada saat membaca surat undangan dari Kick Andy itu, Herry tak kuasa membendung airmatanya. ‘’Tuhan menjawab doa saya. Sudah lama saya ingin bertemu Andy Noya. Setiap habis nonton Kick Andy di televisi, saya selalu mengetuk-ngetuk kaca tv sambil berbisik, kapan ya saya bisa bertemu Pak Kick Andy,” ujar Herry polos.
Sebegitu besarnyakah pengaruh Kick Andy? Sekali lagi saya sering bertanya dalam hati. Karena itu, mata saya sering berkaca-kaca ketika membaca berbagai komentar di website.
Ada murid yang mengatakan setelah menonton Kick Andy menjadi semangat belajar. Ada yang mengaku secara fisik tidak sempurna dan putus asa tetapi setelah menyaksikan Kick Andy berbalik bersyukur karena masih banyak orang lain yang lebih menderita dibandingkan dia. Kali lain ada juga komentar yang mengatakan hubungannya dengan ayah dan ibunya menjadi hangat kembali setelah menyaksikan episode Kiyati, seorang anak asal Salatiga, Jawa Tengah, yang dipungut anak oleh keluarga Jerman ketika masih berusia empat bulan.
Setelah dewasa Kiyati kembali ke Indonesia untuk mencari ibu kandungnya. Di Kick Andy anak dan ibu dipertemukan. Penonton yang memberi komentar mengatakan pada saat itu dia baru menyadari betapa beruntungnya dia karena selama ini ibu dan ayahnya selalu berada di dekatnya dan memberikan kasih sayang yang berlimpah, yang selama ini kurang dihargainya.
Ada pula yang mengaku selama ini memendam dendam pada seseorang, tapi setelah menonton Kick Andy dia memaafkan orang yang dibencinya. Begitu pula seorang guru yang mengaku batal bunuh diri setelah menonton Kick Andy. Semua ini membuat saya – dan tim Kick Andy – merasa usaha dan kerja keras kami tidak sia-sia.
Semua yang kami sajikan ternyata memberi arti bagi Anda. Arti tentang pentingnya bersyukur. Bersyukur tentang apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita. Kita sering tidak tahu apa rencana Tuhan bagi kehidupan kita. Hanya satu hal yang harus kita yakini, rencana Tuhan selalu indah. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

SUGENG


SUGENG
Senin, 05 Mei 2008 12:00 WIB
7100 Dibaca
Tools Box
SUGENG Ini rahasia yang saya simpan sejak kanak-kanak. Saya tinggal bersama ibu dan dua kakak perempuan di Dinoyo Tangsi, sebuah gang sempit, di Surabaya. Umur saya tujuh tahun dan duduk di kelas satu sekolah dasar. Kulit saya putih dan rambut saya keemasan. Dengan kondisi fisik seperti itu, saya tampak berbeda dari anak-anak di kampung di situ. Di gang itu tinggal juga seorang anak yang kedua kakinya lumpuh.
Untuk menopang tubuhnya, dia menggunakan dua tongkat yang dijepit di ketiaknya. Saya lupa namanya. Tapi wajahnya, sampai detik ini, tak akan pernah saya lupakan. Saya sungguh-sungguh membencinya. Saya lupa apa pekerjaan orangtuanya, tetapi yang saya ingat anak tersebut punya sebuah sepeda roda tiga, yang mirip kereta bangsawan di Inggris, tapi dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Bangku yang tersedia untuk satu orang tapi untuk anak-anak bisa berdua.
Guna menjalankan kereta itu, anak tersebut menggunakan kedua tangannya untuk mengayuh. Anak tersebut cukup duduk di jok, lalu tangannya yang bekerja. Saya tidak ingat, apakah dia anak orang kaya (untuk ukuran penduduk di kampung itu) atau kereta itu pemberian donator. Tapi, itu tidak penting. Bukan masalah kereta yang ingin saya ceritakan di sini. Namun kereta itu menjadi barang mewah di kampung kami. Terutama bagi anak-anak seusia saya.
Sehari-hari anak yang lumpuh tersebut memakai tongkat. Hanya pada saat-saat tertentu dia menggunakan kereta. Itulah saat yang ditunggu-tunggu oleh kami, para kanak-kanak di sepanjang Gang Dinoyo. Pasalnya, di bagian belakang kereta ada pijakan yang bisa kami gunakan untuk nggandol (numpang) saat kereta meluncur.
Namun di sinilah masalahnya. Untuk bisa menumpang ada macam-macam persyaratan. Selain harus membayar upeti, setiap penumpang harus bersedia melakukan beberapa perintah anak tersebut sebelum diijinkan nggandol di belakang kereta. Upeti atau bayaran disesuaikan dengan musim permainan yang ada. Jika pada saat itu musim permainan karet gelang, maka kami harus membayar dengan karet gelang untuk bisa menumpang.
Begitu juga jika sedang musim “gambar“ (gambar yg diambil dari tokoh-tokoh komik, misalnya Batman dan Robin, Samson, dll, yang dicetak kecil-kecil lalu digunting seukuran separuh kartu nama). Ini permainan yang populer saat saya kanak-kanak. Kalau musim layang-layang, kami harus setor layang-layang dulu. Jika tidak mampu membayar upeti, jangan harap bisa nggandol di kereta ajaib itu.
Berani coba-coba, kepala bisa benjol. Sebab pada saat naik kereta, anak yang lumpuh itu tetap membawa kedua tongkatnya. Tongkat itu bisa berubah menjadi senjata yang mengerikan dan sangat ditakuti karena sewaktu-waktu bisa dipukulkan ke badan atau kepala kami yang kecil-kecil. Satu hal yang sampai sekarang tidak saya mengerti, dalam banyak kesempatan dia memperlihatkan kebenciannya kepada saya.
Beberapa kali tongkatnya menyakiti badan atau kepala saya. Bahkan pada saat saya tidak berminat nggandol keretanya, dia tetap saja berusaha menyakiti saya. Usianya yang lebih tua dan kedua senjatanya yang sangat saya takuti, membuat saya tidak berdaya. Apalagi dia selalu mendapat perlindungan dari kakak-kakak lelakinya.
Sementara saya waktu itu tinggal hanya dengan seorang ibu dan dua kakak perempuan. Dua kakak laki-laki saya sudah di Jakarta ikut ayah. Sejak itu saya sangat benci pada orang-orang yang menggunakan tongkat. Dalam pikiran saya orang-orang yang kakinya tidak sempurna dan menggunakan tongkat adalah orang-orang jahat. “Racun“ itu menyebar di otak dan mengendap di hati saya untuk jangka waktu yang lama.
Traumatis yang saya alami dulu itu ternyata cukup parah. Setelah dewasa dan memahami bahwa setiap individu berbeda, tingkat kebencian saya mulai memudar. Tidak semua orang yang lumpuh kakinya jahat. Saya mencoba melakukan detoksi agar “racun“ kebencian pada orang-orang yang cacat kakinya terus berkurang. Namun trauma masa kanak sampai detik ini sulit dihapus tuntas.
Bayangan wajah dan perlakuan anak bertongkat yang saya terima di masa kanak dulu ternyata mengendap di bawah alam sadar dan kadang masih mencuat ke permukaan. Kalaupun saya mencoba mencari jawab mengapa dia membenci saya, dugaan kuat karena ada darah Belanda mengalir dalam tubuh saya. Darah Belanda ini tidak menjadi masalah ketika kita tinggal di kota besar seperti Jakarta apalagi di jaman sekarang. Tetapi pada masa awal 1960-an, dan jika kita tinggal di daerah perkampungan, soal darah Belanda ini bisa menjadi “takdir“ yang patut disesali.
Tinggal di kampung dengan kulit yang lebih terang dari rata-rata anak-anak kampung memang bisa menjadi persoalan tersendiri. Untuk jangka waktu cukup lama saya menderita dilahirkan sebagai “anak Belanda“. Sebab pada masa itu buku-buku sekolah dan pandangan para orangtua, terutama yang wawasan dan pergaulannya terbatas, bermuatan kebencian terhadap orang Belanda. Kala itu Belanda dianggap sebagai penjajah yang harus dimusuhi. Saya sering disingkirkan dari pergaulana anak-anak sebaya karena dicap “penjajah“. Saya menjadi musuh bersama.
Bahkan ada sebuah syair lagu dalam bahasa Jawa yang sampai sekarang tidak akan pernah saya lupakan baitnya. Sebab lagu itu sering dinyanyikan jika ada sekelompok anak-anak memusuhi saya. Bunyi syairnya begini: …kowe arep nang di, Le ? Kulo bade gawe boto, Boto karo nggo opo, Le Kanggo ngepruk Londo… (....kamu mau ke mana, Nak? Saya mau membuat batu bata Batu bata untuk apa, Nak? Untuk memukul kepala Belanda.) Mungkin itu dulu lagu perjuangan yang dinyanyikan di desa-desa atau di kampung-kampung untuk memberi semangat bagi para prajurit atau gerilyawan guna melawan penjajah Belanda.
Tapi apakah saya harus memikul ‘’dosa keturunan’’ itu hanya karena saya lahir dari rahim seorang perempuan yang memiliki darah Belanda dalam tubuhnya ? Akibat sering dimusuhi dan diperlakukan seperti itu, saya benci terlahir dengan darah Belanda mengalir di dalam tubuh saya.
Di rumah bahkan saya melarang ibu saya berbahasa Belanda. Sehingga ibu sering mencuri-curi berbahasa Belanda dengan kakak-kakak saya jika saya tidak di rumah.
Saya juga benci Belanda. Gara-gara mereka saya jadi dimusuhi teman-teman. Empat puluh tahun kemudian, saat saya mengundang Sugeng Siswoyudhono di Kick Andy, saya teringat kembali pada teman yang masa kanak dulu begitu saya benci. Teman yang dulu sering menganiaya saya dengan kedua tongkatnya yang mengerikan itu.
Kehadiran Sugeng di Kick Andy seakan sudah diatur oleh-Nya. Pertemuan dengan Sugeng mengikis kebencian yang secara tidak sadar rupanya masih mengendap di alam bawah sadar saya. Usai pertemuan dengan Sugeng saat rekaman Kick Andy, hati saya terasa lapang. Plong. Saya semakin yakin ini jalan yang dikehendaki Tuhan. Siapa bisa menyangka Kick Andy menemukan Sugeng, seorang pemuda nun jauh di sebuah desa kecil di Mojokerto, Jawa Timur? Pada saat duduk di kelas dua SMA Sugeng mengalami kecelakaan sepeda motor. Akibat kecelakaan itu kaki kanannya harus diamputasi. Tidak mudah bagi remaja aktif seusia dia menerima kenyataan harus hidup selamanya dengan hanya satu kaki.
Tapi, Sugeng membalikkan ratapan menjadi decak kekaguman. Bermula dari kaki palsunya yang sudah rusak, Sugeng tidak sampai hati meminta orangtua atau saudaranya untuk membelikan dia kaki palsu. Maka, dengan pengetahuan yang terbatas, Sugeng mulai merancang dan membuat sendiri kaki palsu untuknya.
Ternyata kaki palsu dari fiber ciptaannya tersebut lebih nyaman dan lebih ringan dari kaki palsu yang umum dipakai. Maka, singkat cerita, dari mulut ke mulut banyak orang tahu soal kaki palsu buatan Sugeng. Pesanan mulai mengalir.
Kaki palsu buatan Sugeng juga relatif murah karena sejak awal tujuannya memang lebih untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Bersama sejumlah anak muda di desanya, Sugeng membuka “Bengkel“ kaki palsu. Dari seorang yang seharusnya “dikasihani“, Sugeng yang sehari-hari bekerja sebagai penjual susu botol ini, justru tampil sebagai penolong orang-orang tak mampu.
Dalam keterbatasannya, Sugeng rela memberi. Saya semakin bahagia ketika mengetahui tayangan topik Sugeng tersebut ternyata menginspirasi banyak penonton. Seorang suami di Pamulang, yang tadinya tidak mau diamputasi dan patah semangat dalam menjalani hidupnya, tiba-tiba bangkit dan bersemangat setelah menonton tayangan tersebut.
Jika Sugeng bisa hidup – bahkan menikmati hidupnya – walau dengan satu kaki, mengapa dia tidak bisa? Begitu pikirnya. Penonton lain, seorang perempuan yang baru menikah, berusaha mencari alamat Sugeng. Dia ingin tahu berapa harga sebuah kaki palsu buatan Sugeng. Perempuan itu sekian lama sudah berusaha menabung dan ingin memberikan hadiah kaki palsu untuk ayah tercinta.
Dia dan keluarganya sedih melihat sang ayah, yang setelah kakinya diamputasi, lebih sering mengurung diri di rumah. Sang ayah menarik diri dari pergaulan karena merasa rendah diri. Dua perempuan dari Surabaya, juga mengejar Sugeng karena ingin mendapatkan kaki palsu buatan Sugeng guna diberikan kepada seorang sahabat mereka yang mengalami kecelakaan dan kedua kakinya harus diamputasi sebatas paha.
Masih banyak kisah lain yang kami baca di website www.kickandy.com, yang menunjukkan betapa tayangan tentang Sugeng di Kick Andy memiliki dampak yang luar biasa.
Tuhan menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Pertemuan saya dengan Sugeng saya yakini bukan peristiwa yang tidak disengaja. Dengan cara-Nya, Tuhan hendak menghapus prasangka buruk yang masih tersisa di alam bawah sadar saya. Prasangka tentang orang-orang yang kakinya cacat. Kehadiran Sugeng di Kick Andy memang membuat banyak orang terinspirasi dan termotivasi.
Bagi saya pribadi, pertemuan dengan Sugeng membersihkan trauma masa kanak yang ternyata masih mengendap dalam hati saya, di bawah alam sadar. Karena itu saya mensyukuri pertemuan saya dengan Sugeng. Tuhan, terima kasih. Sejak bertemu pemuda berkaki palsu itu, hati saya jadi plong.

YANTI


YANTI
Kamis, 05 Juni 2008 12:00 WIB
7420 Dibaca
Tools Box
Beberapa komentar di website kickandy.com mempertanyakan mengapa Kick Andy sering mengangkat topik yang berkaitan dengan saudara-sauadara kita yang mengalami kekurangan secara fisik. Mengapa kaum disable ini mendapat tempat istimewa di Kick Andy
Saya sendiri baru menyadari hal tersebut setelah membaca beberapa komentar tersebut. Dalam rapat-rapat penentuan topik apa yang akan diangkat di Kick Andy, mungkin secara tidak sadar saya selalu antusias ketika topik yang dibahas berkaitan dengan saudara-saudara kita yang secara fisik tidak sempurna.
Komentar yang masuk tersebut membuat saya merenung. Saya baru menyadari banyak topik yang diangkat di Kick Andy ternyata punya keterkaitan dengan masa lalu saya. Langsung maupun tidak. Soal tunagrahita, misalnya. Ketika saya mencoba menelusuri masa lalu, saya menemukan satu babak dalam kehidupan saya yang bersentuhan erat dengan seorang anak tunagrahita.
Saat itu saya duduk di kelas dua SD, di Surabaya. Tetangga saya sebelah rumah persis, memiliki anak tunagrahita. Namanya Yanti. Di usianya yang menginjak lima tahun, anak bungsu dari sembilan bersaudara ini belum bisa berbicara. Bola matanya selalu bergerak-gerak tanpa henti. Pandangannya kosong. Wajahnya khas anak tunagrahita. Jika marah, Yanti selalu membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Sungguh mengerikan.
Beda usia yang juga sangat jauh dengan kakak-kakaknya membuat Yanti semakinkesepian. Dengan keterbelakangan mental semacam itu kehadiran Yanti lebih banyak dirasakan sebagai beban ketimbang menghibur. Apalagi jika sedang marah, tidak mudah menghentikan Yanti saat dia membenturkan kepalanya dengan keras ke tembok.
Lalu apa hubungannya Yanti dengan saya? Awal tahun 70-an, tidak banyak keluarga yang memiliki televisi di rumah mereka. Waktu itu televisi hitam putih (belum berwarna seperti sekarang) menjadi lambang prestise. Hanya keluarga kaya yang bisa memajang pesawat televisi di ruang tamu mereka. Salah satu di antaranya keluarga Yanti.
Saya termasuk yang kurang beruntung. Jangankan televisi, radio saja saya tidak punya. Karena itu, hampir setiap sore saya menumpang nonton di rumah Yanti. (Waktu itu, seingat saya, TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi yang ada, baru mulai siaran sore hari). Nah, agar diijinkan menumpang nonton, saya terpaksa pura-pura ngajak Yanti bermain. Orang Jawa bilang “ngemong”. Itu saya lakukan setiap hari sebagai “harga” yang harus saya bayar. Termasuk jika Yanti minta diajak jalan-jalan ke luar rumah. Begitu berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan.
Kehadiran saya tentu menyenangkan hati ayah, ibu, dan kakak-kakak Yanti. Setidaknya, setiap sore mereka terbebas dari kewajiban “ngemong” Yanti. Saya mengambilalih fungsi tersebut. Jadi, ini hubungan simbiosis mutualistis.Hubungan saling menguntungkan. Saya bisa nonton televisi sambil menjaga Yanti, sementara keluarganya bisa “istirahat” sejenak. Namun lama kelamaan Yanti begitu lengket pada saya. Setiap melihat saya, matanya berbinar-binar. Senyumnya mengembang.
Bahkan jika Yanti menangis dan tak seorang pun mampu meredakannya, maka kakak-kakak Yanti biasanya memanggil saya sebagai “pawangnya“ untuk membantu meredakan tangis atau amarah Yanti. Biasanya selalu berhasil.
Dari sekadar sebagai upaya agar bisa numpang nonton televisi, semakin lama saya semakin sayang pada Yanti. Sebagai anak bungsu, saya merasa seakan mempunyai adik. Jika mendengar suara tangis Yanti, rasanya saya ingin berlari untuk menghiburnya. Bahkan belakangan saya lebih sering mengorbankan keinginan nonton televisi dan memiilih untuk mengajak Yanti jalan-jalan di sore hari.
Sampai pada suatu hari saya harus pindah ke kota Malang. Saya harus meninggalkan Yanti. Sedih rasanya mengenang saat-saat perpisahan dengannya. Walau tak pernah terucapkan, dari matanya yang nanar ketika saya pamit, Yanti seakan merasakan perpisahan itu.
Sehari sebelum berangkat ke Malang, saya mengajak Yanti jalan-jalan. Dalam usianya yang lima tahun itu, Yanti belum dapat berjalan dengan sempurna. Dia lebih banyak dalam gendongan saya. Tidak mudah bagi anak kelas dua SD seperti saya menggendong anak umur lima tahun dengan tubuh cenderung gemuk. Tapi rasa pegal kerap dikalahkan cinta kasih saya pada Yanti yang sudah saya anggap sebagai adik sendiri.
Delapan tahun setelah perpisahan itu, saya pernah mampir ke Surabaya. Waktu itu saya sudah duduk di kelas dua STM. Kesempatan itu saya gunakan untuk bertemu Yanti. Yanti nyaris hampir seperti dulu. Wajahnya, mimiknya, bola matanya. Hanya tubuhnya kini lebih besar. Tapi Yanti sudah tidak mengenali saya.
Upaya saya untuk membangkitkan kenangan lama atas hubungan kami, sia-sia. Hancur rasanya hati melihat bagaimana Yanti menatap saya dengan pandangan dingin. Mata yang berbinar-binar itu tidak terlihat lagi. Saya bagaikan mahluk asing baginya. Itulah pertemuan terakhir saya dengan Yanti.
Dalam perjalanan hidup saya kemudian, setiap kali melihat anak-anak tunagrahita, hati saya terenyuh. Saya teringat Yanti. Saya ingat wajah yang selalu gembira melihat kedatangan saya setiap sore. Dalam keterbatasannya, menurut ibunya, Yanti selalu tidak sabar menunggu kedatangan saya setiap jam empat sore. Waktu dimana saya selalu datang untuk menumpang nonton televisi di rumah mereka.
Mungkin pengalaman hidup bersama yanti inilah yang membuat saya selalu bersemangat ketika teman-teman di tim Kick Andy hendak mengangkat topik yang berkaitan dengan keterbelakangan mental atau anak-anak dengan kebutuhan khusus. Masa lalu memang tidak mudah dihapus dari ingatan. Kadang masa lalu tersebut bersembunyi di balik alam bawah sadar kita, kemudian menyeruak ke permukaan pada saat-saat tertentu. Begitu pula yang terjadi pada saya.