Bismilahirrohmannirrohim

Semoga selamat dan bahagia di dunia dan di akhirat

Kamis, 15 September 2011

Montir Mesin Tik


Montir Mesin Tik
Selasa, 10 April 2007 12:00 WIB
1886 Dibaca
Tools Box
Saya malu punya ayah tukang betulin mesin tik. Karena itu saya paling benci kalau ada yang bertanya apa pekerjaan orangtua saya. Kalau bisa, saya mencoba menghindar untuk menjawab. Jika terdesak saya bilang ayah saya polisi. Kadang saya menyesal lahir sebagai anak seorang tukang servis mesin tik. Apalagi kalau kawan-kawan sekolah saya mulai saling membanggakan profesi ayah mereka. Apa yang dibanggakan dari seorang montir mesin tik? Pekerjaan yang tidak membutuhkan kecakapan istimewa. Modalnya juga cuma peralatan obeng, tang, solder, dan cat semprot. Tubuhnya yang kurus dan ringkih, berbalut kemeja sederhana lengan pendek, dengan tas kulit kumal di bahunya, sungguh jauh dari sosok ayah yang ideal.
Tapi, di luar profesinya, ayah sangat humoris. Tiada hari tanpa tawa. Bahkan kepahitan hidup pun ditertawakannya. Di mana ayah berada, suasana selalu ceria. Dia suka betul bercerita. Kebanyakan cerita-cerita lucu. Entah dari mana dia mendapatkan bahan lelucon yang tak habis-habisnya. Saya hidup dalam kontradiksi itu. Dari cerita ayah, dulu dia teknisi di perusahaan perikanan. Hidup layak. Gaji cukup. Tetapi sifatnya yang terbuka, riang, dan pandai dansa membuat ibu cemburu. Ibu berasal dari keluarga yang berpendidikan baik.
Ketika mereka menikah, ibu harus rela mengorbankan kehidupannya dan masuk dalam kehidupan ayah yang pendidikannya kurang tinggi. Maka terjadi benturan-benturan. Ibu yang merasa sudah berkorban, sangat cemburu melihat ayah selalu dikerumuni wanita. Sifatnya yang periang, terbuka, dan pandai berdansa waktu itu membuat ayah sangat populer. Akibat cemburu, ibu mulai membatasi ruang gerak ayah. Bahkan sampai kepada pekerjaan. Akhirnya karir ayah berantakan. Di hari tua ibu menyesali sifatnya. Tapi ayah tidak terlalu mempersoalkan. Dia tetap menikmati hidup. Bekerja sebagai montir mesin tik tidak membuat martabatnya jatuh dan keceriaannya pupus.
Sampai suatu ketika, penyakit mulai menggerogoti tubuhnya. Fisiknya tak mampu lagi menopang semangatnya. Dia lebih banyak tiduran ketimbang bekerja. Sesekali, dengan sisa-sisa tenaga, dia memaksa bekerja. Suatu hari ayah mengalami kesulitan. Saya berniat membantu tapi dihardik. Dia meminta saya tidak menyentuh satu pun mesin tik yang ada. “Tugasmu sekolah. Konsentrasi pada pelajaran,“ ujarnya dengan mata sedikit melotot. Sungguh saya tidak mengerti. Harusnya dia berterima kasih. Ayah akhirnya meninggal. Dia kalah oleh penyakit dan juga teknologi. Menjelang akhir hayatnya, ada beberapa mesin tik elektrik yang tak dia sentuh. Masa transisi mesin tik manual ke elektrik adalah masa transisi kehancuran ayah (Saya tidak bisa membayangkan bagaimana gundahnya ayah jika dia melihat mesin tik saat ini sudah berkembang menjadi teknologi komputer yang super canggih).
Kini, 30 tahun setelah ayah tiada, saya baru menyadari banyak sekali nilai yang dia tanamkan. Nilai yang paling kuat adalah nikmati hidupmu. Hampir dalam setiap kesusahan, ayah selalu berusaha melihat sisi positifnya. “Hidup ini indah. Jangan sia-siakan,“ begitu nasihatnya berkali-kali. Pantang mengeluh. Itu nilai lain yang dia tekankan.
Apa pun pekerjaanmu, kerjakan dengan hati. Jangan mengeluh dan mencerca perusahaan tempatmu bekerja, tapi tetap menerima gaji setiap bulan. Setelah dewasa, saya semakin menyadari bahwa pelajaran hidup dan nilai-nilai yang baik bisa lahir dari siapa saja. Kisah Buyung yang buta dan ibunya yang papa, yang pernah diangkat di Kick Andy, ternyata mampu menyadarkan kita tentang arti perjuangan pantang menyerah.
Suster Apung di Sulawesi menebar nilai dedikasi tanpa pamrih sementara Pak Sariban di Bandung, orang tua yang diejek gila, mengajarkan kecintaan dan penghargaan pada lingkungan. Mereka hanya tiga dari sekian banyak “orang kecil“ yang pernah tampil di Kick Andy, yang mampu membuka mata dan hati kita.
Saya merasa kehilangan sahabat ketika ayah saya menghembuskan nafas terakhir tepat di pangkuan saya. Banyak ajaran-ajaran yang dia tanamkan yang baru saya sadari nilainya setelah kepergiannya. Rasanya ingin waktu bisa diputar kembali. Agar ayah tahu saya bangga padanya. Agar saya bisa menghargai dia bukan dari profesinya, tapi dari nilai-nilai hidup yang dia ajarkan. Saya bangga pada ayah saya. Walau dia hanya montir mesin tik.

Mata Hati


Mata Hati
Senin, 23 April 2007 12:00 WIB
1929 Dibaca
Tools Box
Mata Hati Kalau ada penyesalan yang sampai sekarang masih menggangu perasaan saya, itu adalah peristiwa kematian seorang perempuan di tahun 1986. Waktu itu saya masih menjadi reporter dan penanggung jawab Halaman Kota di Harian Bisnis Indonesia, Jakarta.
Sepulang kerja, sekitar jam satu dinihari, saya naik angkot dari Salemba menuju Blok M. Tepat di halte pemberhentian Bendungan Hilir, seorang perempuan, saya taksir usianya sekitar 24 tahun, naik dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak kalut. Matanya sebentar-sebentar melihat ke jalanan gelap seakan ada yang mengejarnya. Saat mobil hendak bergerak, seorang pria melompat naik. Saya ingat ada lima penumpang saat itu. Seorang pria tua, dua pemuda, wanita tersebut, pria yang baru saja naik, dan saya.
Wajah wanita itu tampak pucat dan ketakutan. Matanya berkali-kali melihat ke arah pria yang baru naik. Walau tanpa riasan, di keremangan malam wanita tersebut terlihat cantik. Baju yang dipakainya sederhana saja. Tapi kami semua, atau mungkin saya sendiri, bisa merasakan kegelisahan wanita itu.
Baru beberapa meter mobil berjalan, wanita tersebut tiba-tiba meminta supir untuk berhenti. Tergopoh-gopoh, setengah melompat, dia turun. Tak berapa lama pria tersebut juga melompat turun. Ada perasaan tak enak dalam diri saya. Saya bisa membaca gelagat aneh dari kejadian barusan. Hati saya berbisik agar saya ikut melompat turun dan melihat apakah dugaan saya benar.
Saya menduga wanita tersebut ketakutan dan mencoba menghindar dari pria tadi. Ada dorongan untuk menolong wanita itu. Cukup lama hati dan akal saya berdebat. Hati saya menyuruh segera turun. Akal saya menolak karena fisik sudah lelah dan mengantuk. Bukankah kalau memang wanita itu terancam dia akan berteriak minta tolong? Lusanya, ketika membuka koran Pos Kota, mata saya tertuju pada satu berita di halaman depan tentang seorang wanita muda yang mati terbunuh. Begitu melihat foto wanita yang tewas tersebut, jantung saya rasanya berhenti. Wajah itu masih lekat dalam ingatan saya. Begitu melihat tempat mayat wanita itu ditemukan tidak jauh dari Bendungan Hilir, saya segera minta kawan saya, seorang reporter yang biasa meliput di kamar jenasah RSCM, menemani saya ke sana.
Sewaktu petugas kamar mayat memperlihatkan jenasah tanpa identitas itu kepada kami, badan saya langsung menggigil. Perasaan menyesal luar biasa mengguncang nurani saya. Ah, seandainya malam itu saya turun, mungkin wanita tersebut tak harus ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Apalagi menurut dugaan polisi, sebelum dibunuh wanita itu diperkosa. Bersama teman tadi saya lalu melapor ke pos polisi Bendungan Hilir. Kepada petugas jaga saya menceritakan pengalaman saya malam itu. Juga ciri-ciri dan pakaian yang dikenakan laki-laki yang saya curigai. Tapi, apalah artinya semua itu? Perempuan itu sudah tiada.
Saya sungguh menyesal. Penyesalan yang terlambat. Teman saya menghibur. Menurut dia saya tidak perlu sampai harus menyesal seperti itu. Kehidupan di Jakarta, katanya, memang keras dan sangat individual. Kita tidak perlu tahu urusan orang. Begitu sebaliknya. Bahkan, katanya, banyak orang yang berniat baik justru jadi korban.
Hendak menolong orang yang kecopetan justru ditusuk hingga tewas oleh para pencopet. Penjelasan teman yang sudah lebih lama hidup di Jakarta itu tetap sulit saya terima. Karena itu, saya segera setuju ketika tim Kick Andy menawarkan konsep talk show yang lebih mengasah hati ketimbang akal. Sudah banyak talk show di televisi lain, juga di Metro TV, yang dibuat untuk mengasah akal. Teman-teman ingin Kick Andy lebih untuk mengasah hati.
Maka hampir semua persoalan yang kami angkat di Kick Andy lebih mengutamakan aspek kemanusiaannya. Aspek hati. Kami ingin penonton memahami topik yang dibahas dengan hati, bukan dengan akal. Sebab 21 tahun lalu, saya menutup mata hati saya., dan sampai detik ini saya masih merasakan penyesalan yang amat dalam. Seandainya saja malam itu saya lebih menggunakan mata hati. Ah, seandainya saja.

GURU


GURU
Rabu, 02 Mei 2007 12:00 WIB
1976 Dibaca
Tools Box
Guru Saya benci guru. Saya tidak percaya guru adalah orang yang arif. Bohong kalau guru singkatan dari orang yang pantas “digugu lan ditiru”, orang yang seharusnya menjadi suri tauladan. Itulah perasaan saya saat duduk di kelas tiga SD. Waktu itu, karena nakal dan suka bolos, saya tidak naik kelas. Agar saya tidak malu pada teman-teman yang naik kelas, orangtua memindahkan saya ke sekolah swasta di bilangan Jalan Diponegoro, Surabaya. Baru dua hari, saya sudah bisa merasakan bahwa saya “mahluk aneh” di lingkungan itu. Sepatu Bata saya terlihat kumal ketika bersanding dengan sepatu-sepatu mahal murid lain saat upacara. Baju putih saya segera terlihat kekuningan akibat ”dicuci dengan sabun biasa”. Hampir semua murid ke sekolah diantar naik mobil. Saya dibonceng paman naik sepeda tua yang sering copot rantainya. Belum lagi denyit roda yang kerap membuat orang menoleh untuk melihat asal suara. Ban kempes di tengah jalan sudah jadi makanan sehari-hari. Karena malu, saya sering minta diturunkan 15 meter dari gerbang sekolah. Awalnya saya merasa takjub bagaimana ibu saya bisa mencemplungkan saya ke sebuah sekolah yang seakan ada di planet lain. Tapi, setelah dewasa kelak, saya baru tahu kalau saya bisa masuk sekolah ”elit” itu lebih karena faktor belas kasihan. Kepala sekolahnya adalah pelanggan yang sering menjahitkan bajunya ke ibu. Karena jahitan ibu memuaskan, sang kepala sekolah jadi pelanggan setia. Ibu lalu minta tolong agar saya bisa bersekolah di situ. Tetap bayar tapi dengan harga ”miring” Sejak dulu ada tiga mata pelajaran yang paling saya sukai dan sangat saya kuasai. Menggambar, mengarang, dan prakarya. Untuk pelajaran yang terakhir, saya dinilai sangat kreatif dan sering mendapat pujian guru. Maka, pada minggu pertama di sekolah baru, ketika mata pelajaran prakarya, malamnya saya tidak bisa tidur. Rasanya tak sabar menunggu matahari terbit. Rasanya tak sabar ingin membuat teman-teman dan guru di sekolah baru itu takjub melihat kreasi saya. Di sekolah lama, murid tidak boleh menyelesaikan prakarya di rumah. Bahan-bahan boleh disiapkan, tapi pengerjaannya harus di sekolah dan disaksikan guru. Maka, ketika hari yang dinanti tiba, saya kaget. Begitu masuk kelas, guru segera meminta semua murid mengumpulkan hasil prakarya. Serentak seisi kelas maju sembari membawa “prakarya” mereka masing-masing. Saya terpana. Ada yang menyerahkan patung bali dari kayu mengkilap, ada asbak ukiran dari gading, kapal layar di dalam botol, lampu duduk berukir berbahan kuningan dan sejumlah barang lain yang sering saya lihat dipajang di etalase toko. Mata saya semakin terbelalak ketika dengan tenang sang guru menerima, memeriksa, kemudian memberi nilai. “Bagus, saya beri nilai sembilan,” ujarnya diikuti senyum bahagia dari sang murid. Begitu seterusnya. Tiba giliran saya, kaki gemetar, jantung rasanya berhenti berdegup. Semangat sudah melayang entah ke mana. Mata guru menatap heran ke materi yang saya perlihatkan. Saya minta waktu untuk menyelesaikannya tapi sang guru menggeleng. Dia minta saya tetap mengumpulkan prakarya “prematur“ itu lalu membubuhkan angka empat. Tak ada sedikit pun keinginan bertanya apa yang ingin saya ciptakan dengan bahan-bahan itu. Saya kecewa. Saya marah. Besoknya saya tak sudi sekolah lagi. Ibu putus asa berusaha membujuk. Saya tidak peduli. Ibu mengalah. Akhirnya saya dipindah sekolah ke Malang. Sekian tahun kemudian, ketika sekolah di Jakarta, saya merasa hancur hati pada dua guru. Ketika ujian kenaikan, kedua guru itu membocorkan bahan ujian. Imbalannya sungguh sederhana. Guru pertama cukup diberi ”uang biskuit”. Guru kedua dengan mantap menyebut 10 sak semen untuk memperbaiki rumahnya. Sulit menerima kenyataan ”guru juga manusia”. Lama perasaan marah dan kecewa itu saya pendam dalam hati. Namun setelah menjadi wartawan dan melihat lebih banyak, penilaian saya berbalik. Saya kini lebih bisa melihat guru dari perpektif yang berbeda. Banyak dari mereka yang terpaksa mengorbankan perasaan demi mempertahankan hidup. Ada yang jadi tukang ojek, tukang becak, satpam, penjual makanan, penjual jamu, bahkan sampai nekat mencuri soal untuk dijual. Karena itu, saya sungguh terharu dan bahagia ketika pada ulang tahun pertama Kick Andy melihat keceriaan guru-guru honorer yang diundang saat rekaman di studio. Dari dialog dengan mereka, saya menjadi bisa lebih memahami dan berempati terhadap nasib guru-guru di Indonesia. Sekarang jika ada guru yang melakukan “kesalahan“, saya tidak semata-mata melihat apa yang mereka lakukan, tapi mencoba memahami mengapa mereka melakukannya. Dengan demikian saya bisa menerima guru apa adanya. Termasuk memahami mengapa guru saya di SD dulu lebih menghargai “prakarya“ yang memiliki nilai ekonomis ketimbang prakarya saya.

Dendam



Dendam
Senin, 14 Mei 2007 12:00 WIB
2107 Dibaca
Tools Box
Harap Anda camkan. Jangan sampai kami melakukan tindakan yang tidak Anda kehendaki.” Begitu sms bernada “ancaman” yang saya terima. Itu hanya satu dari sekian banyak sms senada yang masuk ke handphone saya setelah Kick Andy mengangkat topik “Orang-orang Buangan”.
Topik itu bercerita tentang sejumlah orang Indonesia yang dikirim belajar ke berbagai negara oleh Bung Karno pada awal 1960-an. Namun ketika Bung Karno “tumbang” dan digantikan rezim Orde Baru, sebagian dari mereka yang pulang ditangkapi karena dituduh komunis. Sebagian lagi memilih tinggal di luar negeri ketimbang pulang dan masuk bui.
Narasumber yang hadir waktu itu antara lain Sobron Aidit (kini almarhum), adik dari tokoh PKI DN Aidit, dan Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung pengarang Pramudya Ananta Toer. Kick Andy ingin mengangkat pergolakan bathin mereka sebagai manusia (baca episode “Orang-orang Buangan”).
Sejumlah orang gusar melihat tayangan tersebut. Saya dituduh memberikan peluang bagi kebangkitan PKI. “Apa maksud Anda memberi ruang kepada mereka untuk berbicara?” Begitu isi salah satu sms yang masuk. “Anda tidak tahu betapa pedihnya kami keluarga yang menjadi korban kekejaman PKI,” isi sms yang lain.
Masih banyak kata-kata marah dan bernada mengancam. Bahkan seorang mantan dirjen, yang masih kerabat Pak Harto, mengirimi saya sejumlah buku yang menggambarkan kekejaman PKI dan bahaya laten komunis. Bahkan dia menyebarkan nomor handphone saya kepada sejumlah “pendukung Orde Baru“ yang marah atas tayangan itu. Merekalah – orang-orang yang tidak saya kenal itu – yang kemudian mengirim sms di atas.
Teror seperti itu sama sekali tidak membuat nyali saya ciut. Tapi saya merasa adalah tidak etis menyebarkan nomor handphone seseorang kepada orang-orang tak dikenal tanpa seijin pemiliknya. Juga karena sms yang masuk dan bernada ancaman itu tak mengenal waktu. Bisa muncul jam berapa saja, termasuk jam tiga pagi. Karena itu saya minta agar sang dirjen menyuruh “teman-temannya“ berhenti meneror saya. Saya dapat merasakan dendam yang luar biasa yang tersirat dari kata-kata di sms itu. Maka saya bisa memahami ketika tokoh NU Salahuddin Wahid dan anggota Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi, Samsuddin, mengaku tidak mudah melakukan rekonsiliasi antar-berbagai pihak yang terlibat dalam tragedi pemberontakan PKI. Dendam memang menghilangkan akal sehat dan membutakan hati.
Ada satu adegan menarik dalam film Spiderman 3. Ketika Peter Parker sang Spiderman baru saja berhasil “menghabisi“ Sandman, yang diduga sebagai pembunuh pamannya, dia segera melapor pada sang bibi. Peter yang berharap sang bibi bahagia mendengar kabar tersebut, sungguh kaget melihat reaksi sang bibi.
Pamanmu, Ben Parker, tidak akan suka melihat kita hidup dalam dendam. Jangan biarkan dendam menguasai hatimu sebab dia akan menjadi racun yang menyebar,“ begitu kurang lebih nasihat yang meluncur dari mulut sang bibi. Peter Parker terkesiap.
Saya pernah hidup membawa dendam selama lima tahun. Waktu berumur 14 tahun, saya berkenalan dengan kakak beradik dan kelompoknya yang sungguh-sungguh jahat. Mereka mengajarkan saya mencuri burung dara, mangga, benang gelasan pabrik (dari anak-anak orang kaya), puluhan tandan pisang dari kebun, dan barang apa saja yang bisa dijual.
Pada saat saya hendak keluar dari kelompok itu, saya diancam dan diteror. Puncaknya, pada suatu malam, mereka mencegat dan memukuli saya. Satu tendangan dari belakang membuat saya terjerembab dan pada saat yang sama sebuah sepeda motor menggilas paha saya. Dengan paha terkelupas dan berdarah, saya berhasil lolos.
Waktu itu saya tidak berdaya. Selain mereka lebih besar, kelompok tersebut memang dikenal sebagai anak-anak jalanan yang kejam. Saya tidak bisa berharap perlindungan orangtua. Sebab saya tinggal hanya bersama ibu yang juga tidak berdaya.
Sejak peristiwa itu, saya berjanji dalam hati kelak akan membalas perlakuan mereka itu. Tahun berganti tahun. Saya pindah ke Jayapura, Papua. Kemudian ke Jakarta dan masuk STM. Ternyata waktu tak mampu mengikis dendam masa kecil.
Suatu hari, saya berkesempatan ke Surabaya. Dendam lama kembali berkobar. Entah setan apa yang merasuki hati dan pikiran saya, malam itu saya memutuskan untuk melakukan pembalasan atas peristiwa yang saya alami lima tahun lalu. Saya menyiapkan sebuah pisau. Pisau itu akan saya gunakan untuk menikam salah satu dari mereka.
Namun dari seorang teman, saya mendapat kabar ternyata sang adik sudah tewas dibunuh orang. Sedangkan sang kakak terakhir diketahui dalam kondisi mengenaskan karena penyakit dan hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Tidak jelas dia kini tinggal di mana.
Entah bagaimana masa depan saya jika upaya balas dendam itu benar-benar terlaksana. Saya kemudian menyadari dengan cara-Nya Tuhan menghindarkan saya dari upaya balas dendam. Sejak itu saya berjanji untuk tidak memelihara bibit dendam sepanjang hidup saya. Sebab dendam membutakan hati.

Sudut Pandang


Sudut Pandang
Senin, 11 Juni 2007 12:00 WIB
2037 Dibaca
Tools Box
Ketika promo Kick Andy dengan topik Mayor Alfredo Reinado ditayangkan, berbagai tanggapan segera bermunculan. Salah satu adalah tanggapan dari seseorang di Timor Leste yang disampaikan melalui salah satu reporter Metro TV. Isinya adalah tuduhan bahwa saya menerima sejumlah uang atas wawancara tersebut. “Andy Noya sudah dibayar oleh Mayor Alfredo,” begitu tulisnya dalam sms yang dia kirim ke reporter Metro TV.
Berkali-kali dia mencoba meyakinkan reporter tersebut bahwa saya menerima uang dari Mayor Alfredo. Tuduhan itu mengingatkan saya pada saat terjadi kerusuhan pasca jajak pendapat di Timor Timur (waktu itu). Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto waktu itu menjadi narasumber yang paling diburu untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Tentu saja saya, yang waktu itu sebagai wakil pemimpin redaksi Seputar Indonesia RCTI, dan teman-teman di Seputar Indonesia, tidak ketinggalan ikut memburunya.
Setelah berkali-kali berusaha meyakinkan, Jenderal Wiranto akhirnya bersedia saya wawancarai. Dalam wawancara eksklusif pertama di televisi yang dilakukan selama satu jam itu, Wiranto bicara blak-blakan dan tanpa sensor. Semua pertanyaan saya, sekeras apapun, dijawabnya dengan lugas. Beberapa minggu setelah wawancara, pada saat saya sedang belajar di Wales sebagai penerima beasiswa dari British Council, istri saya mengirim sebuah email. Isinya ada tuduhan saya menerima Rp 1 miliar dari Jenderal Wiranto atas wawancara tersebut.
Pada saat Kick Andy menampilkan Presiden Timor Leste (waktu itu) Xanana Gusmao, saya juga menuai protes dan kecaman dari sejumlah keluarga para veteran Seroja. Mereka protes karena tokoh Xanana di acara tersebut seakan dikesankan sebagai pahlawan. Hal tersebut sangat menyayat hati mereka mengingat ayah, suami, kakak, atau adik mereka sudah mengorbankan darah dan nyawa untuk mempertahankan Timor Timur agar tidak lepas dari Indonesia.
Pengorbanan yang oleh mereka dinilai seakan sia-sia melihat akhir dari semua itu: Timor Timur tetap lepas. Sementara dari Timor Leste mengalir pujian dari berbagai kalangan. Bahkan ada permintaan dari TVTL (TVRI-nya Timor Leste) untuk diperbolehkan memutar ulang topik tersebut. Hal yang sama terjadi saat Kick Andy menampilkan topik Orang-orang Buangan, yang menceritakan nestapa sejumlah orang yang dikirim belajar ke luar negeri (sebagian besar ke negara-negara komunis) oleh Bung Karno tetapi kemudian tidak bisa pulang ketika rejim Orde Baru memerintah.
Mereka dicap sebagai PKI dan jika pulang ditangkapi dan dipenjara. Mereka yang marah menuduh saya pro PKI dan membuka peluang lahirnya kembali partai terlarang itu. Lebih dari itu, sejumlah ancaman saya terima melalui sms. Sementara beberapa pihak menilai topik tersebut membuka mata orang tentang apa yang terjadi waktu itu dari sisi yang berbeda.
Ketika topik Hercules diangkat, ada yang menilai saya menjadikan Hercules layaknya pahlawan. Dengan begitu citra preman akan menjadi positif. Ujung-ujungnya akan membuat premanisme semakin marak. Sementara penonton yang lain melihat tokoh Hercules yang ditampilkan membuat mereka bisa melihat seseorang dari berbagai dimensi.
Dengan demikian bisa membuka mata kita agar tidak menghakimi seseorang berdasarkan sudut pandang kita semata. Mana yang benar dan mana yang salah, saya tidak hendak memberikan penilaian. Berbagai cerita semacam itu akan semakin panjang jika dirunut ke belakang dalam perjalanan hidup saya sebagai wartawan. Termasuk ”ancaman” yang saya terima dari seorang pimpinan sebuah lembaga yang dulu sangat ditakuti setelah wawancara dengan Mayor Alfredo ditayangkan.
Dia menuduh saya telah dengan sengaja ingin merusak hubungan baik antara Indonesia dan Timor Leste. Bahkan dia sempat meminta saya menghentikan tayangan tersebut. Sebagai jurnalis, saya memang harus siap menghadapi risiko semacam itu.
Sementara soal kredibilitas dan integritas, biarlah waktu yang akan mengujinya. Dalam setiap topik yang diangkat di Kick Andy, setiap penonton tentu akan melihat dari perspektifnya masing-masing, berdasarkan pengalaman hidup dan nilai-nilai yang dianutnya. Karena itu kebenaran menjadi relatif. Ada satu perumpamaan sederhana yang bisa menjelaskan hal ini.
Ketika Anda menunjukkan telapak tangan Anda kepada orang di hadapan Anda (dengan posisi seperti orang mengatakan tidak), dan Anda tanya apa warna telapak tangan Anda, dia akan menjawab putih. Sementara Anda mengatakan coklat karena Anda sedang menatap bagian pungung dari tangan Anda. Siapa yang benar? Keduanya tentu benar. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Mereka Korban


Mereka Korban
Selasa, 03 Juli 2007 12:00 WIB
2165 Dibaca
Tools Box
Pernahkah melihat orang yang Anda cintai meregang nyawa di depan mata Anda? Bagaimana perasaan Anda? Seperti itulah yang saya rasakan. Mungkin menjadi lebih menyayat karena prosesnya lama dan menyakitkan . Apalagi yang sedang meregang nyawa seorang anak muda yang baru saja menginjak usia 20an.
Seharusnya perjalanan keponakan saya itu masih panjang. Lebih panjang dari saya. Tapi narkoba menghentikan langkahnya lebih awal. Dan saya tidak berdaya. Dia pergi dengan cara yang tidak selayaknya.
Ada perasaan sesak dalam hati. Apalagi adegan yang tidak bisa saya hapus dari ingatan itu juga disaksikan ayah, ibu dan adik-adiknya. Dalam kondisi sekarat, di balik alat bantu pernafasan, saya merasakan betapa tatapan matanya seakan hendak meminta tolong. Tapi saya tidak berdaya. Ayah dan ibunya pun tidak berdaya. Kedua adik perempuannya juga tidak berdaya. Sementara dokter sudah menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa pasrah melihat sakratul maut perlahan tapi pasti merampas nyawa keponakan saya dari raganya. Raga yang kurus dan tak berdaya akibat daya tahan tubuh yang melorot ke titik nadir.
Setelah peristiwa itu, keponakan saya yang lain, Heymard, yang juga terjerat dalam cengkeram barang-barang jahanam itu, mengirim sms kepada saya. "Om, aku sadar akan tiba giliranku mati dengan cara yang sama. Aku menyesal. Tapi semua sudah terlambat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku pasrah."
Saya memcoba memberinya semangat untuk tidak menyerah. Termasuk mendorongnya masuk ke sebuah panti rehabilitasi di Jawa Tengah. Sebuah keputusan yang berat karena saya telah memisahkannya dari kedua orangtuanya dan dari lingkungan tempat dia tumbuh. Kedua lingkungan yang ternyata menjerumuskan dia ke dalam lubang gelap penuh ketidakpastian dan berujung kematian.
Ingatan saya kembali ke tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun di mana saya menjaga Heymard ketika masih kanak-kanak, mengantarnya sekolah, memandikannya, menyuapinya dan mencintainya dengan sepenuh hati.
Namun setelah menikah dan berkeluarga, saya tidak dapat lagi mengikuti dengan seksama pertumbuhan mereka satu per satu. Belakangan baru saya tahu ternyata mereka tumbuh dalam situasi yang kurang mendukung. Baik di dalam keluarga maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Tali Cinta


Tali Cinta
Senin, 06 Agustus 2007 12:00 WIB
2313 Dibaca
Tools Box
Suatu hari ibu masuk ke kamar saat saya sedang berbaring. Saya ingat peristiwa itu terjadi tahun 1982, saat saya masih mahasiswa tingkat dua. Dia lalu ikut berbaring di sisi saya. Hal yang sudah lama tidak dilakukannya. Saya lalu teringat saat-saat saya masih kecil. Sebagai anak bungsu, saya selalu mendapat keistimewaan tidur bersama ibu, dalam kehangatan pelukannya.
Sampai suatu ketika terjadi peristiwa yang membuat hati saya hancur dan sejak itu saya mulai "memusuhi" ibu sampai bertahun-tahun lamanya. Bahkan sampai saya dewasa. Sejak itu hubungan saya dan ibu menjadi hubungan yang "aneh". Setidaknya itu yang saya rasakan. Ada amarah yang terpendam dalam hati saya. Saya lalu menunjukkannya dengan melawan dan berbuat sesuatu yang membuat ibu sedih. Saya lalu tumbuh jadi anak nakal. Bergaul dengan anak-anak jalanan. Jarang pulang ke rumah. Tidur beratapkan langit, di emper-emper rumah orang. Jika ada orang kampung tahlilan, saya selalu ikut "meramaikan". Selain bisa numpang tidur di atas tikar yang hangat, saya juga bisa menikmati aneka makanan. Kadang kehadiran saya di antara mereka menarik perhatian. "Iki anake sopo?" pertanyaan itu kerap terdengar sebelum saya terlelap. Mereka tentu bingung melihat seorang anak yang tidak dikenal tidur di antara mereka. "Koyoke anake londo". Kulit saya yang putih dan kontras dengan anak-anak kampung membuat saya sering dibilang "anaknya orang Belanda".
Usia saya masih 12 tahun. Tapi saya memberontak dan lebih sering hidup di jalanan. Sekolah tahun itu berantakan. Dari sekadar iseng, saya mulai ikut-ikutan mencuri. Saya dan anak-anak jalanan sering cari makan di kebun binatang dekat rumah saya(dengan melompat tembok belakang setinggi tiga meter). Setiap pagi hewan-hewan diberi makan. Kami biasa bersembunyi di kandang burung unta yang terbuka. Setelah petugas pergi, kami mencuri buah-buahan makanan burung unta dan memilah-milahnya. Buah favorit kami pisang. Bagian yang kotor kami buang, yang masih bersih dimakan.
Kemarahan saya pada ibu bermula ketika saya mengetahui dia menjalin hubungan dengan seorang pria, di belakang punggung ayah. Saat itu saya sulit menerima kenyataan ada laki-laki lain di samping ibu selain ayah. Saya marah, saya sakit hati, dan saya berontak untuk menunjukan protes.
Belakangan baru memahami mengapa semua itu terjadi. Ayah dan ibu memang memilih untuk berpisah. Karena bungsu dan masih kecil, hanya kepada saya kondisi itu dirahasiakan. Sejak itu saya hanya diasuh oleh ibu. Jika saya bertanya tentang ayah, ibu dan kakak-kakak saya selalu menjawab ayah sedang berusaha mencari pekerjaan di Irian Barat.
Untuk bertahan hidup ibu menjahit. Ibu juga pernah menjadi kasir di sebuah restoran tapi kemudian keluar. Saya cuma mendengar ibu mengeluh pekerjaan itu tidak sesuai dengan pendidikan dan panggilan jiwanya. Apalagi subuh-subuh dia sudah dijemput "mobil sayur" dan harus meninggalkan kami anak-anaknya mengurus diri sendiri sebelum berangkat sekolah.
Sekarang saya menyadari bagaimana perjuangan ibu sebagai orangtua tunggal yang harus menghidupi dan membesarkan anak-anaknya seorang diri. Tapi waktu itu, hati kanak-kanak saya tidak bisa menerima "orang lain" selain ayah yang lebih saya kenal melalui foto-fotonya.
Hubungan antara saya dan ibu sejak itu memang menjadi renggang. Saya mencoba memahami tindakan ibu, tapi hati saya sulit memaafkan. Perasaan itu terus saya bawa hingga dewasa. Bahkan ketika ayah dan ibu mencoba untuk membangun kembali mahligai perkawinan mereka yang berantakan, sekian tahun kemudia, entah mengapa hati saya tetap sulit memaafkan.
Sampai pada hari itu, ketika ibu masuk ke kamar saya, pada 1982. Sambil berbaring di samping saya, air matanya mengalir di pipinya. "Boleh ibu tanya sesuatu," ujarnya lirih. Saya mengangguk. "Ibu merasa sekian tahun lamanya kamu seakan memendam sesuatu. Kamu marah pada ibu?"
Saya terhenyak. Perasaan saya campur aduk. Sekian lama saya mencoba menghindar dari pembicaraan seperti ini. Saya tidak pernah siap untuk mengungkapkan apa yang saya rasakan. Saya selalu berusaha mengabaikannya dan membohongi diri saya bahwa pengalaman masa kecil dulu itu sudah saya pendam dalam-dalam.
Sembari berlinang air mata saya kemudian mengungkapkan betapa saya kecewa dan marah pada ibu karena saya merasa dibohongi, merasa disakiti, ketika diam-diam ibu menjalin cinta dengan dengan pria lain.
Saya ceritakan betapa galaunya seorang bocah yang bangun tengah malam dan dan mendapati sang ibu tercinta tidak berada di sisinya. Betapa gundahnya hati seorang bocah yang berlari di jalanan di tengah malam mencari ibunya.
Ibu lalu memeluk saya. Dia tidak menyangka saya memendam perasaan itu bertahun-tahun lamanya. Dia tidak pernah tahu kejadian ini. Dia tidak tahu bahwa bocah kecilnya itu tersakiti. Ibu lalu meminta maaf sembari menjelaskan bahwa dia manusia biasa. Manusia yang membutuhkan seseorang yang mencintainya, menjaganya, dan menjadi teman berbagi cerita, terutama ketika beban terasa berat.
Kini ibu sudah tiada. Dia meninggal akibat kanker. Jika ada yang saya sesali dalam hubungan dengan ibu, saya kehilangan banyak waktu yang seharusnya dapat saya lalui dengan indah bersama ibu.
Kisah Kiyati menyadarkan kita semua betapa hubungan anak dan orangtua begitu berharga. Banyak anak kehilangan kesempatan untuk mendapat kasih sayang dari orangtua karena keadaan. Begitu pula sebaliknya. Tetapi lebih banyak lagi anak-anak yang tidak mereguk kasih sayang justru ketika mereka hidup bersama ayah dan ibunya. Sebaliknya banyak anak yang tidak memberi perhatian dan kasih sayang kepada orangtua karena hubungan yang terlalu rutin.
Kisah Rene dan Kiyati menggugah kesadaran kita semua, termasuk saya, betapa berharganya jalinan cinta kasih antara anak dan orangtua. Betapa indahnya hubungan itu sehingga jangan sampai kita abaikan dan kemudian menyesalinya di kemudian hari.